
KARANGASEM – Aci Manda dan Nyepi Desa, tetap ajeg dilestarikan krama Desa Adat Bugbug, Kecamatan/Kabupaten Karangasem. Ritual ini bagian dari menyeimbangkan alam semesta dan menjaga tanah leluhur agar tak dijamah orang luar. Ratusan deha dan truna desa (pemuda dan pemudi), Desa Adat Bugbug, bersama tetua adat turun mengelilingi perbatasan wilayah desa setempat untuk mengikuti ritual Aci Manda, Selasa (1/2/2022).
Ditengah guyuran hujan, para truna desa terlihat membawa pucuk pelepah enau yang diukir dingan hiasan janur, sedangkan para daha membawa canang bokoran (bunga untuk persiapan sembayhang Red). Ritual berjalan tertib tanpa ada riuh sedikitpun. Sementara para photographer budaya juga terlihat asik mengabadikan mumen tahunan itu.
Kelian Adat Desa Bugbug, Jro Nyoman Purwa Ngurah Arsana, mengatakan, sesuai namanya, Aci Manda merupakan ritual mengelilingi pelemahan (batas desa). Tujuannya untuk memperkenalkan kepada para truna desa terhadap batas-batas wilayah yang dimiliki Desa Adat Bugbug.
“Aci Manda merupakan ritual nedunang (menurunkan) dan mengupacarai Sanghyang Aji Raja Purana, penguasa prasasti pingit Desa Adat Bugbug. Dalam pelaksanaan tradisi ini, sebagai pengewajantahan dari semua upacara yang ada di Desa Adat Bugbug,” jelasnya.
Kelian Desa Adat Bugbug yang juga sebagai anggota DPRD Provinsi Bali ini menambahkan, dalam Aci Manda teruna pemundut prasasti (Truna Pasting) para pemangku, daha taruna Desa, truna truni Banjar Adat, ancangan desa, penglingsir desa adat, para prajuru serta krama desa, tiga kali keliling mengitari palemahan desa. Prosesi itu dilakukan bagian dari memberi petunjuk kepada truna dasa untuk mengetahui secara pasti batas wilayah desa yang dimiliki.
“Beginilah cara para leluhur kami menterjemahkan pengakuan akan sumber-sumber daya alam yang dimiliki. Salah satunya adalah dengan mengetahui, merawat dan menjaga tapal batas desa, agar tidak diakui oleh pihak luar dan bisa dipergunakan untuk mensejahterakan krama. Dan, Aci Manda yang dilaksanakan setiap tahun ini merupakan bagian dari pelestarian itu,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Baga Parahyangan Desa Adat Bugbug I Wayan Artana mengatakan, Aci Manda juga bertujuan untuk memohon kesuburan, jatuh pada panglong 13 sasih kawulu, panglong 14 sasih kawulu dan panglong 15 Sasih Kawulu.
“Diantara tiga hari tersebut harus dipilih hari yang triwaranya bsaya atau Pasah. Tahun ini, Aci Manda jatuh pada panglong 15 sasih kawulu/tilem kawulu bertepatan dengan pasah,” terangnya.
“Aci Manda juga berkaitan dengan prosesi nedunang Ida Bhatara Gde Pengawi atau Ida Bhatara Gde Agung Sakti untuk distanakan di Panti Balai Agung. Beliau juga bernama Ida Bhatara Ratu Mas Pingit. Ritual ini merupakan bagian dari upacara bhuta yadnya menjelang ngesanga (nyepi) sasih kaulu,sebagai bentuk menjaga keseimbangan alam semesta,”
terangnya.

Sehari setelah Aci Manda, lanjut Kepala Sekolah SMKN 1 Amlapura ini, Desa Adat Bugbug melaksanakan Nyepi Adat, Rabu (2/2). Nyepi adat sendiri jatuh Beteng panglong 14 sasih Kawulu atau Panglong 15 Sasih Kawulu atau Penanggal 1 Sasih Kesanga.
“Selain melaksanakan Nyepi Adat, kami juga melaksanakan Nyepi secara nasional yang biasa dilaksanakan semeton Hindu di seluruh Indonesia. Selama pelaksanaan Nyepi Adat, krama desa tidak diperkenankan keluar rumah dan melakukan aktivitas lain. (wat/jon)








