
BULELENG – Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali Ny Putri Suastini Koster memberi edukasi kepada sejumlah perajin tenun di wilayah Buleleng, Kamis (13/1/2022).
Dalam kunjungannya, Putri Koster meninjau Pertenunan Artha Dharma yang beralamat di Jalan Raya Sinabun, Singaraja. Kedatangannya disambut I Ketut Rajin selaku pemilik pertenunan yang langsung menjelaskan sejumlah produk unggulannya.
Ciri khas Pertenunan Artha Dharma adalah perpaduan songket dan endek dengan pewarnaan alami. Selain hasil produksi berupa kain untuk kamen dan baju, Pertenunan Artha Dharma juga memproduksi tas berbahan kain endek dan songket serta souvenir berupa kotak tisu.
Ny Putri Koster tampak antusias melihat-lihat hasil produksi di galeri pertenunan ini. Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas usaha yang ditekuni Ketut Rajin. Sebab selain memiliki nilai ekonomi, usaha ini juga berkaitan dengan tanggung jawab pelestarian tenun tradisional Bali.
“Ini karya yang luar biasa, saya berterima kasih sekali,” ucapnya.
Ia mengingatkan pemilik pertenunan Artha Dharma menjual hasil produksi dengan harga pantas. Begitu juga bagi pelaku usaha tenun lainnya. Perajin diharapkan tidak mencari keuntungan terlalu banyak dengan menetapkan harga terlampau mahal.
“Coba kalkulasi berapa biaya produksi, lalu tetapkan harga jual dengan prosentase keuntungan agar harga jual tak terlalu mencekik konsumen. Misalnya, patok keuntungan 30 persen dari biaya produksi, jangan mencari untung hingga 100 bahkan sampai 300 persen. Coba cari harga yang pantas, ” ujarnya.
Dengan demikian, konsumen tidak merasa kaget dan cenderung takut untuk membeli produk tenun ketika melihat label harga.
Sebagai Ketua Dekranasda, ia memandang perlu melakukan edukasi terkait penetapan harga jual mengingat dewasa ini konsumen sudah melek dan tak bisa lagi dibodohi. Seluruh perajin diharapkan memahami hal itu agar usaha mereka bisa berkembang.
“Kalau harganya pantas, pasti banyak yang beli. Modal juga cepat berputar, ” tandasnya.
Agar keberadaannya tidak punah, Putri Koster berencana mengadakan lomba menenun menggunakan alat tenun tradisional ini.
“Saya selalu menjelaskan kepada tamu dari luar bahwa tenun sambungan itu adalah hasil cagcag dan itu kualitasnya paling baik. Mereka kan kadang protes, kenapa tenunnya sambungan. Kita harus bisa menjelaskan kalau itu hasil dari tenun yang menggunakan alat cagcag dan itu istimewa, ” ungkapnya.
Dalam kunjungannya, Ny Putri Koster juga sempat melihat para pekerja yang sedang menenun kain songket dan endek. Ia berharap, ke depannya ada regenerasi para penenun agar keberadaan kain tenun tradisional Bali tak terancam punah. Selain itu, ia juga menggugah minat kaum laki-laki untuk menekuni pekerjaan menenun. (arn)








