
KARANGASEM—Harga cabai yang meroket naik, tidak serta merta membuat petani di Karangasem tersenyum. Sebaliknya ditengah kenaikan harga cabai tersebut, petani malah menjerit. Hal ini dikarenakan tanaman cabai yang dimiliki membusuk batang akibat hujan deras terus mengguyurnya.
Ini juga dialami petani cabai di Desa Bungaya, Kecamatan Bebandem. Saat ini, petani disana malah merugi ditengah naiknya harga kebutuhan pokok di Karangasem.
“Rugi sudah pasti, tanaman cabai yang sudah siap panen malah daunnya menguning. Buahnya juga membusuk di batang karena lembab terus-menerus diguyur hujan,” ungkap Nengah Tampi, Kamis (6/1/2022).
Luas lahan cabai yang ditanam Tampi mencapai hektaran. Dia terpaksa melakukan panen lebih awal agar tidak merugi besar. Buah cabai yang dipetik masih hijau belum merah. Harga jualnya juga jauh lebih murah.
“Melihat luas tanaman cabai yang saya tanam, kerugian bisa mencapai puluhan juta. Terlebih buah cabai yang dipanen masih hijau dan belum matang (merah) dan harganya juga sangat murah,” ungkapnya sedih.
Dipihak lain, pedagang cabai di pasar Amlaura Timur, Ni Ketut Musni, mengatakan, minimnya pasokan cabai dari petani membuat harga cabai melambung tinggi. Sebelumnya per kilogram cabai harganya mencapai Rp 39 ribu. Sekarang meroket menjadi Rp 90 ribu per kilogramnya.
“Harga memang lagi mahal karena pasokan dari petani sangat sedikit. Cabai yang kita juga sekarang pasokannya datang dari Jawa,” jelas Musni. (wat/jon)








