
PETANG – Taksu dan aura seni mengiringi perjalanan terakhir maestro Topeng Tugek Carangsari I Gusti Ngurah Windia. Puluhan penari topeng dan penari Baris Ketekok Jago mengawal bade sang maestro, menuju setra tempat dilaksanakannya upacara ngaben, Kamis (23/12/2021). Tarian Topeng Massal dipersembahkan sebelum jenazah Sang Maestro diaben.
Rumah duka di Banjar Pemijian, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Badung sudah dipenuhi pelayat sejak pagi hari. Tak hanya keluarga dan kerabat, juga terlihat ratusan seniman yang sebagian merupakan anak didik sang maestro, dalam duka yang mendalam. Sejumlah seniman mengenakan pakaian penari topeng dengan berbagai karakter. Tepat pukul 11.55 Wita, jenazah Sang Maestro menuju setra menggunakan bade.
Tabuhan baleganjur mengiringi bade dan naga banda yang akan membawa Sang Maestro menuju alam sunia. Setelah tiba setra, tarian topeng massal dipersembahkan terakhir kalinya untuk Sang Maestro. Dilanjutkan mempersembahkan badong dan kostum topeng kepada almarhum ini wujud apresiasi seniman Badung maupun Bali.

Anak bungsu almarhum I Gusti Ngurah Artawan mengatakan, proses pelebon diawali upacara nyiramin (memandikan jenazah) pada 19 Desember 2021. Kemudian pada tanggal 22 Desember dilangsungkan upacara ngaskara atau pembersihan. Sementara puncaknya pada Kamis kemarin acara palebon atau pengabenan. Prosesi satu hari penuh dan pada sore selesai pembakaran jenazah dilanjutkan nganyud ke segara (laut).Setelah upacara pelebon, dilanjutkan dengan memukur atau nyekah pada tanggal 31 Desember 2021.
“Saat acara palebon ini ada sesuatu yang unik yang dipersembahkan oleh para seniman Badung khususnya dan Bali umumnya, ” ujar Ngurah Artawan di temui di sela-sela acara pelebon.
Mulai dari nyiramin, ngaskara itu juga dipersembahkan tarian wali, gamelan dan balih-balihan sebagai apresiasi daripada seniman.
Seperti diketahui Sang Maestro meninggal dunia dalam perawatan di RSD Mangusada, Minggu (12/12) sekitar pukul 22.45 Wita, akibat komplikasi sejumlah penyakit. Kondisi Sang Maestro menurun sehari setelah pentas topeng terakhirnya pada tanggal 3 Desember 2021, di Pura Dalem Desa Carangsari.
Almarhum yang kelahiran kelahiran 31 Desember 1946 ini, meninggalkan istri tercinta Desak Ayu Suriati dan empat orang anak, yaitu I Gusti Ayu Putri, I Gusti Ayu Sari, I Gusti Ngurah Putra, dan I Gusti Ngurah Artawan.
Darah seni mengalir di darah Sang Maestro sejak kecil. Pada tahun 1966, tepat pada usia 20 tahun, almarhum mulai mementaskan tarian Topeng Tunggal. Tiga tahun kemudian, yakni tahun 1969 almarhum membentuk sebuah sekaa topeng. Karena kepiawaiannya, grup topeng ini banyak diundang dan menari ke seluruh Bali. Sekehe topeng ini kemudian dikenal dengan ‘Topeng Tugek Carangsari’. (lit/jon)








