Derita Petani Cabai di Sukawati, Gagal Panen Akibat Busuk, Harga Anjlok Selama Pandemi

0
109
Wayan Metra menunjukkan cabainya yang busuk.
Wayan Metra menunjukkan cabainya yang busuk.

GIANYAR – Petani cabai di Subak Laud dan Subak Abasan, Desa/Kecamatan Sukawati, Gianyar, terus merugi. Setelah harga anjlok selama pandemi, mereka kembali harus menghela nafas panjang akibat gagal panen.

Wayan Metra selaku Kelihan Dinas Banjar Gelumpang menuturkan, cabe di wilayahnya mengalami busuk disinyalir karena faktor tingginya kelembaban udara.

“Kalau dilihat curah hujan dan kelembaban yang sangat rendah, kemungkinan penyakit ini disebabkan oleh cendawan atau jamur. Dari yang saya baca, penyakit ini dikenal antroksa atau patek,” tuturnya sembari menyebut dari 437 KK, 80 persen merupakan petani.

Sementara, petani I Komang Mulastra (45) menceritakan, panen cabai tak lagi menjanjikan sejak pandemi Covid-19. Diperparah lagi gagal panen akibat busuk.

“Harganya terus anjlok. Seharusnya Agustus sampai Desember musim panen,” ujarnya.

Situasi normal, harga cabai Rp 30.000-Rp 50.000 per kilogram dan hasil panen mencapai 150 sampai 200 kilogram dalam waktu lima kali dalam sebulan. Berbeda saat pandemi hanya di kisaran Rp 7.000- Rp 15.000 per kilogram.

“Sekarang sekali petik di kisaran 25 kilogram dan itupun harus dipilih karena banyak busuk. Harganya Rp 6.000 per kilogram,” ungkap petani yang memiliki lahan ditanami cabai seluas 50 are ini. (arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 − two =