
DENPASAR – Fotografer Gung Ama merasakan badai teknologi fotografi digital yang setiap hari menawarkan kemudahan fitur baru. Arus modern itu membuat seniman fotografi makin kehilangan identitas, jati diri dan pencapaian berkarya.
Gung Ama pun ingin mengembalikan sensasi karya kreatif foto jaman dulu alias jadul. Ia pun memajang karya-karya bertajuk Swa’Raga di Tempo Dulu Kopi, Kesiman, Denpasar Timur.
Pameran tunggal Gung Ama yang digelar selama tiga hari (15-17 Oktober 2021) itu menampilkan 34 karya yang lepas dari suasana hingar bingar fotografi, jauh dari warna, jauh dari dominasi teknis semata dan yang terpenting jauh dari intervensi orang orang yang tampil di rekam fotografisnya.
Dengan brand “Rekonstuksi Bali 1930”, Gung Ama mengajak model maupun penikmat fotonya bertamasya dalam mesin waktu kembali dalam suasana Bali di awal abad keduapuluh.
Swa’Raga menampilkan serangkaian karya foto hasil penjelajahan teknis Gung Ama dengan ekperimen kamera kotak kayu bernama Afghan Camera. Sebuah medium kamera kotak kayu yang populer digunakan sebagai kamera instan dengan nama “Kamraa-e-faoree” alias kamera instan di Afghanistan sekitar tahun 1920-an.
Gung Ama juga piawai mencetak alih media foto pada beberapa material alternatif seperti kayu, batu dan logam. “ Sebuah kreasi tidak boleh bergantung hanya pada satu elemen teknis, melainkan harus dapat dikembangkan dari kreasi dalam diri dengan berbagai medium tidak terbatas,” ucap Gung Ama di sela-sela pembukaan pameran pada Jumat 15 Oktober 2021.
Pameran dibuka pegiat seni sekaligus arsitek, Popo Danes dan dikurasi akademisi fotografi, Bayu Pramana. “Saya merasa senang insan kreatif selalu mengembangkan jati dirinya dan hasil visual fotografi Afghan Camera atau kamera kotak kayu ini luar biasa, sangat khas,” ucap Popo Danes.
Bayu Pramana menimpali, pameran dirangkai dengan kegiatan Workshop Alternatif Fotografi, Sabtu 16 Oktober 2021 pukul 13.00 WITA. di penghujung acara digelar Kumpul Buku Kolonial #2 yang menampilkan kembali buku-buku tentang Bali di era kolonial dirangkai dengan diskusi akademik dengan narasumber I Kadek Dwi Noowatha dan pemantik diskusi I Nyoman Gede Maha Putra, Minggu 17 Oktober 2021 pukul 16.00 WITA. (sur)








