
BULELENG – Peringatan Hari Suci Saraswati dimasa Pandemi Covid-19, merupakan momentum penting bagi Umat Hindu. Tidak hanya memaknai pelaksanaan yadnya kepada Dewi Saraswati sebagai manivestasi Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, tapi bagaimana pengetahuan dimaknai sebagai cahaya kehidupan yang dapat menerangi umat saat berada dalam kegelapan, salah satunya Pandemi Covid-19.
“Yadnya adalah nafas umat Hindu di Bali, aktifitas dari keyakinan tentang Panca Srada, sebagai penuntun dalam pelaksanaan bhakti melalui pelaksanaan yadnya, yakni Dewa Yadnya, Pitra Yandya, Rsi Yadnya, Manusia Yadnya dan Butha Yadnya,” ungkap Ketua PHDI Kabupaten Buleleng, I Gede Made Metera, Sabtu, 28 Agustus 2021 usai memantau pelaksanaan Upacara Peringatan Hari Suci Saraswati di Pura Jagatnatha Singaraja dan sejumlah sekolah serta kampus.
Metera menandaskan dengan memaknai Hari Suci Saraswati sebagai spirit moderasi beragama dimasa Pandemi Covid-19, pelaksanaan yadnya tidaklah harus berlebihan, tidak harus ekstrem sampai harus melanggar protokol kesehatan (prokes) sebagai upaya penyelamatan warga negara dari penularan Covid-19 oleh pemerintah.
“Umat Hindu memiliki tuntunan dalam melaksanakan yandya, termasuk saat terjadi wabah atau bencana, sebagaimana disebutkan dalam tatwa maupun sastra/lontar, antara lain Tatwa Catur Marga meliputi Nista, Madya dan Utama (sederhana, menengah dan utama), Lontar Anda Kecacar terkait tuntunan pelaksanaan yandya saat terjadi wabah dan Lontar Roga Sanghara Gumi tentang sebab dan upaya mengatasi wabah,” tandas Metra seraya menegaskan tuntunan pelaksanaan yandya saat terjadi wabah, telah dilakukan dalam kehidupan terdahulu.
Dengan memaknai pengetahuan sebagai cahaya kehidupan, kata Metra, moderasi beragama diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk adaptasi tatanan kehidupan era baru, khususnya pada pelaksanaan yadnya dimasa Pandemi Covid-19.
“Dengan moderasi beragama, kita berharap yandya yang dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan ketat, tidak hanya mencapai tujuan dari serada bhakti, tapi juga dapat menyelamatkan keluarga, sanak saudara, lingkungan dan kita semua dari penularan Covid-19,” tandasnya.
Metra yang juga Ketua FKUB Kabupaten Buleleng berharap, moderasi beragama sebagai salah bentuk adaptasi tatanan kehidupan era baru ini dapat dilaksanakan dan dikembangkan dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Buleleng. (kar)








