
GIANYAR – Jenasah warga terkonfirmasi positif covid-19 tertukar terjadi di Desa Tengkulak Kaja, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kamis 12 Agustus 2021. Akibatnya, salah satu jenasah akhirnya batal dikremasi lantaran telah terlanjur dikubur.
Bendesa Adat Tengkulak Kaja, I Made Selamat, saat ditemui awak media, Jumat 13 Agustus 2021, membenarkan kejadian tersebut. Kata Selamet, sebelum kasus tersebut terjadi, salah satu warganya, Ni Gusti Made Rai, asal Banjar Tengkulak Kaja Kauh meninggal terkonfimasi positif covid-19 pada Rabu 11 Agustus 2021. Keluarga telah melaporkan hal tersebut ke prejuru adat. “Keputusannya, warga yang meninggal tersebut akan dikremasi 18 Agustus 2021 nanti,” ujarnya.
Kemudian, Kamis 12 Agustus 2021, kembali ada warga meninggal dengan nama sama, Ni Gusti Made Rai, namun asalnya dari Banjar Tengkulak Kaja Kangin. Meninggalnya pun sama terkonfirmasi positif covid-19 dan perawatannya di RS Sanglah. Keputusan adat dan keluarga, warga yang meninggal pada 12 Agustus 2021 ini akan dilakukan prosesi penguburan “nyulub” pada sore itu juga di Setra Adat Tengkulak Kaja.
“Dua warga kami yang meninggal ini sebelumnya sama-sama di rawat di RS Sanglah. Jenasah mereka pun juga dititipkan di kamar jenasah yang sama, hanya saja di sana ketat. Untuk melihat gak boleh, ngasi ajengan (makanan) juga tak boleh, pengangge (pakaian) baru juga tak boleh,” jelasnya.
Setelah persiapan selesai. Jenasah Ni Gusti Made Rai asal Banjar Tengkulak Kaja Kangin, akhirnya datang diantar ambulan. Proses penguburannya menerapkan prokes. Hanya saja dalam ambulan itu tidak ada petugas pengubur jenasah. Keputusannya, Satgas gotong royong turun tangan melakukan pemakaman dengan APD seadanya.
Dua jam setelah proses pemakaman, datang lagi keluarga yang bersangkutan. Melaporkan ke prejuru adat bahwa jenasah ibunya yang sudah dikubur itu ternyata tertukar. Ternyata yang dikubur adalah jenasah dari Banjar Tengkulak Kaja Kauh yang rencananya akan dikremasi.
“Kami jadi bingung, karena berkaitan dengan adat, karena warga meninggal yang telah dikubur tidak boleh digali lagi kecuali diaben kinembulan,” jelasnya.
Kata salah satu keluarga, mereka ditelpon pihak RS Sanglah bahwa jenasah tertukar.
“Setelah meyakinkan keluarga, kami tanya dulu untuk memastikan. Kami akhirnya rembug, ambil tindakan langsung mengecek kebenaranya ke RS Sanglah,” jelasnya sambil didampingi perbekel Kemenuh, I Dewa Nyoman Neka.
“Sampai di Sanglah, Kami tidak diizinkan masuk untuk melakukan pengecekan. Setelah sedikit berdebat akhirnya diizinkan dengan APD lengkap,” imbuhnya.
Setelah dicek, ketemulah jenasah Ni Gusti Made Rai, asal Banjar Tengkulak Kaja Kangin yang harusnya dikubur.
“Malam itu juga, diputuskan, keluarga pemilik jenasah yang akan melakukan kremasi diminta untuk membatalkan, karena berkaitan dengan adat dan keselamatan secara niskala. Keduanya akhirnya dikuburkan, prosesnya sampai jam 01.30 dinihari,” ungkapnya.
Saat ini, Kata Selamet kedua keluarga sudah kondusif. Keputusan sudah diterima. Saat wawancara, kedua pihak keluarga pun datang menjemput bendesa untuk diajak bersama melaporkan pembatalan kremasi.
“Keluarga yang akan kremasi ini sudah membayar DP (uang muka), sekarang kami melapor, harapannya DP bisa dikembalikan,” jelasnya.
Sementara, Perbekel Kemenuh I Dewa Nyoman Neka, berharap kejadian ini bisa dijadikan evaluasi pihak Satgas atau rumah sakit.
“Kalau mau jadikan ini evaluasi. SOP diperbaiki. Nanti bisalah lihat untuk mastikan keluarga mereka. Karena ini nantinya berkaitan dengan skala niskala,” tandasnya. (jay)








