
TABANAN – Tim panjat tebing PON Bali yang kini mengejar target 3 emas bahkan berjuang keras untuk bisa merealisasikan lebih dari target itu di PON XX/2021 di Papua pada 2-15 Oktober mendatang, kini dihadapkan pada dilema try in atau try out terutama terkait dengan anggaran itu.
Seperti diutarakan Ketua Umum Pengprov FPTI Bali Putu Yudi Atmika, guna terus meningkatkan kualitas para atlet panjat tebing PON Bali dibutuhkan try in atau try out. Hanya saja ada pertimbangan-pertimbangan tersendiri.
“Kalau try out memang sebelum PON ada kejuaraan di Makasar dan rencananya juga di Bandung dan Jawa Tengah. Tapi kan KONI Bali tidak mengizinkan try out. Sedangkan kalau try in butuh anggaran persiapan sebagai tuan rumah tidak mudah. Seperti anggaran untuk tenaga. Salah satu contoh seperti pembuat jalur itu melakukan kerjanya sampai jam 12 malam untuk membuat jalur baru. Jadi itu perlu anggaran juga termasuk anggaran untuk persiapan lainnya,” tegas Yudi Atmika usai monitoring KONI Bali ke cabang olahraga (cabor) panjat tebing, di lintasan panjat tebing di Lapangan Alit Saputra, Tabanan, Rabu 9 Juni 2021.
Sedangkan untuk try out lanjutnya, kendalanya adalah biaya keluar kota dan peserta dikenakan biaya. Pasalnya kalau try out maupun try in bentuk kegiatannya harus kejuaraan kalau bentuk latihan bersama akan sulit dilakukan.
“Karena KONI Bali memberikan dukungan maka kami nanti akan mencoba melakukan pendekatan kepada KONI Bali untuk mengikuti try out seperti kejuaraan yang satu dari kejuaraan yang nantinya digelar di Bandung atau Jawa Tengah. Nanti dipilih mana kejuaraa yang bergengsi dan diikuti atlet PON provinsi lainnya,” demikian Yudi Atmika. (ari)








