
DENPASAR – Sejumlah anggota DPRD Bali sudah melakukan vaksinasi yang dilaksanakan di UPT. Kesehatan dan Pengobatan Tradisional Provinsi Bali, Senin 1 Maret 2021. Namun dari peserta vaksin dikalangan anggota DPRD Bali ini tidak semuanya berjalan mulus. Tiga orang anggota DPRD Bali sempat tegang, hingga membuat tensi tinggi dan gagal vaksinasi. Diantaranya Made Budastra, AA Ngurah Adhi Ardhana dan Wayan Arta.
Anggota Komisi II DPRD Bali Tjokorda Gede Agung menyampaikan pengalamannya saat penyuntikan vaksin Covid tahap pertama pada 24 Pebruari 2021 yang lalu. Menurutnya, saat dilakukan vaksinasi tidak ada sakit apa-apa.
“Rasanya, kalau kita bayangkan seperti mencukit yang dilakukan anak-anak sekolah zaman dulu dan tidak seperti apa yang diberitakan besar-besaran dan menengangkan,” katanya.
Politisi PDIP asal Klungkung ini mengatakan, dari kecil sakit yang dialami ketika injeksi antibiotik saat masuk obat. Tidak seperti berita-berita yang dibesar-besarkan itu hingga membuat peserta vaksinasi tegang. Hanya saja dua hari setelah divaksin ada rasa ngantuk-ngantuk dan itu memang benar adanya bukan dibuat-buat. Namun setelah dilakukan kegiatan dan ada keringat yang keluar rasa kantuk itu secara otomatis menghilang. Sebaliknya nafsu makan semakin bertambah enak dan porsi makanpun bertambah banyak.
“Bukan hanya itu, dulunya tidak pernah ada kebiasaan nyemil, sekarang sambil nonton televisi, saya harus nyemil, nafsu makan enak terus,” ujarnya sembari menambahkan pengalamannya sudah pernah donor darah sampai 132 kali dan astungkara masih tetap sehat.
Pihaknya berharap kepada masyarakat Bali, kalau mau sehat, jalani dan ikuti vaksinasi agar Bali bisa bebas dari penularan Covid-19. Meski sudah divaksin, masyarakat baik yang tua maupun yang muda harus tetap mengikuti Protokol Kesehatan (Prokes) dan penuh disiplin dengan pola hidup baru ditengah pandemi Covid-19. Penggunaan masker harus tetap, menjaga jarak dan selalu rajin mencuci tangan.
Tjokorda Agung yang juga Wakil Sekretaris DPD PDIP Bali menambahkan, sebelum dilakukan penyuntikan oleh petugas medis, memang ada 15 pertanyaan yang disampaikan dan harus dijawab. Selain cek tensi, ada pertanyaan apakah pernah dioperasi apa tidak, ada riwayat kencing manis, apakah ada sesak nafas dan masih banyak lagi pertanyaan.
“Kebetulan saat penyuntikan vaksin pada 24 Pebruari 2021 saya bersamaan dengan pak Wagub. Saat itu saya tidak ada persoalan sehingga langsung dapat divaksin. Kalau pak Wagub waktu itu tensinya naik dan penyuntikan vaksinnya ditunda sampai tensinya normal kembali,” imbuhnya menceritakan pengalaman penyuntikan vaksin dikalangan anggota dewan.
Sementara Ketua Fraksi PDIP DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya mengaku pusing-pusing setelah vaksin Covid-19.
“Saya sempat pusing-pusing dan mengantuk setelah divaksin sehingga tadi langsung pulang,” pungkasnya. (arn)








