Pendonor Menurun, PMI Kewalahan Penuhi Permintaan Darah

0
64
Kegiatan Donor Darah dilaksanakan PMI Provinsi Bali bekerja sama dengan Wianta Fundation di Wantilan DPRD Bali.

DENPASAR – Kepala UTD PMI Provinsi Bali dr. I Gede Wiryana Patra Jaya mengatakan, pendonor darah menurun 30 persen selama pandemi Covid-19 dalam periode Maret-Desember 2020.

“Sebelum pandemi, pemenuhan kebutuhan darah Se-Bali mencapai angka 95% dari permintaan. Karena terjadi penurunan 30 % jumlah pendonor, PMI hanya bisa memenuhi 70 % dari permintaan,” katanya di sela-sela kegiatan donor darah bekerja sama dengan Wianta Fundation di Wantilan DPRD Bali, Sabtu 27 Februari 2021.

Sejak pemberlakuan kehidupan normal baru (new normal life) Juli-Agustus 2020, pendonor darah sempat naik dan PMI bisa memenuhi 80% permintaan transfusi darah. Namun, kondisi kembali menurun sejak kebijakan PKM pada November-Desember 2020. Bahkan, hingga kini, stok darah kurang bagus. “Setiap hari dibutuhkan sekitar 120 kantong darah. Karena terjadi penurunan jumlah pendonor hanya terpenuhi 70 % yakni 90 kantong.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak takut mendonorkan darah selama pandemi karena sangat aman karena pihaknya menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Sementara, Made Beratha, perwakilan dari Wianta Foundation mengatakan, kegiatan donor darah dilaksanakan dalam rangka 100 hari wafatnya maestro seni rupa Made Wianta. Ini merupakan bagian dari upaya untuk melanjutkan kepedulian pelukis asal Tabanan ini terhadap kegiatan sosial dan kemanusiaan semasa hidupnya. “Sebagai seniman, kepedulian Pak Wianta terhadap masalah sosial kemasyarakatan dan lingkungan dilakukan secara nyata, juga dalam karya, seni instalasi, dan seni pertunjukan,” kata Beratha.

Kata dia ketika terjadi bom Bali, Wianta ikut donor darah dan menyambangi keluarga korban untuk memberikan santunan. Tragedi bom Bali 2002 itu juga menginspirasi Wianta melahirkan karya seni instalasi “Dreamland’ yang dipamerkan di Biennale Venezia pada 2003.
Sebelumnya, pada 1999 Wianta merespons kekerasan yang terjadi di berbagai wilayah melalui happening art “Art & Peace” di Pantai Padanggalak Sanur yang melibatkan 2 helikopter dan 2.000 penari yang membawa kain sepanjang 2.000 meter berisikan pesan perdamaian para tokoh dari berbagai negara.
Wianta pernah pameran di California, AS, bertajuk “Art for AIDS” (1992) yang seluruh hasil penjualan karya disumbangkan untuk penelitian HIV-AIDS. Kemudian, bersama sejumlah seniman ia menggelar “Art for Flores”, pengumpulan dana bagi korban bencana di Flores, NTT.
Beratha mengatakan Wianta juga kerap membantu pembangunan pura, pameran amal untuk gereja, dan menyumbang ke masjid.
“Selain menikmati karya-karya Pak Wianta, kami juga mengenang dan ingin melanjutkan kepeduliannya terhadap lingkungan dan kemanusiaan yang akan diwujudkan Wianta Foundatian bersama para sahabat Forum Art & Peace,” ujarnya.(sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here