Fraksi PDIP All Out Kawal Kebijakan Gubernur, Pemasaran Kain Endek Pabrikan Minta Dihentikan

0
1560

Fraksi PDIP se Bali all out dukubg kebijakan gubernur terkait penggunaan pakaian berbahan kain endek Bali

DENPASAR –  Fraksi PDIP di DPRD Bali dan DPRD kabupaten kota se-Bali benar-benar all out mengawal kebijakan Gubernur Bali Wayan Koster, dimana setiap kebijakan yang diturunkan menunjukan keberpihakan kepada rakyat Bali dan benar-benar memberikan manfaat untuk meningkatan pendapatan para pengrajin. Seperti halnya Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2021 tentang Penggunaan Kain Tenun Endek Bali/Kain Tradisional Bali. Surat Edaran ini juga secara resmi telah diberlakukan penggunaan pakaian berbahan kain tenun endek Bali setiap Selasa. Penggunaan kain endek tersebut diharapkan harus produksi pengrajin masyarakat lokal Bali dan dihimbau tidak menggunakan kain endek pabrikan. 

Hal itu terungkap dalam webinar yang digelar DPD PDIP Bali melibatkan semua DPC PDIP se- Bali, mengambil tema Gotong Royong Membangun Ekonomi Rakyat, Saling Tulung Pada Nyama Bali. Bahkan juga ada ajakan untuk penggunaan pakain endek yang merupakan murni hasil produksi pengrajin lokal Bali yang diproduksi secara tradisional. Selain diproduksi secara tradisional juga pewarna yang digunakan berasal dari pewarna dari tumbuh-tumbuhan. 

“Semua kader PDIP sangat antosias mengikuti webinar mensosialisasikan SE Gubenrur nomor 4 tahun 2021. Semua kader dengan kekuatan politik mengamankan SE Gubernur, kader harus siap tempur di udara dan darat ketika ada pihak-pihak yang membuli di Media Sosial (Medsos),”tegas Wakil Ketua Bidang Kehormatan Partai DPD PDIP Bali, Ketut Suryadi (Boping) pada kegiatan Webinar Endek melibatkan seluruh DPC PDIP se-Bali di Sekretariat DPD PDIP Bali, Selasa 23 Februari 2021.

Politisi PDIP asal Tabanan ini mengatakan dari kegiatan Webinar ini, berbagai ide telah muncul untuk pengembangan berbagai motif kain endek yang diproduksi secara tradisional oleh para pengrajin endek di Bali. Bahkan, ada ide yang muncul seperti dari DPC PDIP Bangli dan Karangasem pada sekolah menengah kejuruan (SMK) pada tahun ajaran mendatang diminta ada jurusan Menenun. Hal ini sangat beralasan, selama ini para penenun kain endek kebanyakan sudah lewat usia produktif. Dibukanya jurusan menenun di tingkat SMK, nantinya akan lahir penenun-penenun muda dari tamatan SMK. 

Ketut Boping—demikian panggilan akrabnya yang juga anggota Komisi IV DPRD Bali ini mengharapkan kepada semua kabupaten kota se-Bali memiliki desain kreatif yang mampu bersaing pada pasar internasional. Sebagai keperpihakan para kepala daerah bupati walikota di Bali harus memiliki keberanian untuk menghentikan produksi endek pabrikan. Sebab, produksi endek pabrikan akan mematikan para pengrajin tradisional. Selain itu, Hak Patennya ada di tenun Bali yang diproduksi secara tradisional.

“Kalau hasil tenun produksi tradisional lokal Bali panjang kain endeknya 105 cm, kalau hasil pabrikan 110 cm dan itu jelas barang endek palsu, tiruan produksi Bali,”tegasnya.

Sementara Wakil Sekretaris DPD PDIP Bali Tjokoda Gede Agung menyampaikan, selaku kader partai harus siap menjalankan dan melaksanakan Surat Edaran Gubernur, penggunaan pakaian berbahan kain tenun endek Bali yang diproduksi secara tradisional pengrajin local Bali. Di Kabupaten Klungkung sendiri menurutnya sudah memanfaatkan kain endek setiap Kamis. Adanya SE Gubernur Bali ini akan menjadi lengkap bukan saja untuk instansi pemerintahan, bahkan semua siswa di sekolah juga memakai baju endek setiap Selasa sesuai edaran Gubernur. Penggunaan pakain berbahan endek ini tentunya akan sangat membantu para pengrajin tenun yang berasal dari masyarakat lokal Bali. 

Kabupaten Klungkung, anggota Komisi II DPRD Bali ini menambahkan, memiliki banyak pengrajin seperti di desa Sulang, Selisihan dan Sampalan. Diharapkan, pengrajin tenun kain endek di Klungkung bisa membuat produksi kain endek yang bisa terkenal sehingga mampu meningkatkan pendapatan para pengrajin. Politisi PDIP yang juga mantan Wakil Bupati Klungkung ini, jangan sampai nasib kain endek seperti kain Rang-Rang di Nusa Penida. Sebab, sejak dulu kain Rang-Rang dan Kain Cepuk merupakan hasil produksi dari pengrajin di Nusa Penida dan sekarang dicetak pabrikan di luar Nusa Penida.

“Kita harus bangkitkan kembali, jangan sampai produksi kain Rang-Rang dan Cepuk yang diproduksi pengrajin lokal menjadi terkubur, kita dikalahkan oleh produksi mesin,”ujarnya.

Sementara Ketua Fraksi PDIP DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya menyampaikan, dari kegiatan Webinar ini, dinilai sangat luar biasa mendapat dukungan dari kader-kader partai untuk mengamanakan kebijakan Gubernur Bali. Berbagai ide, gagasan dan usulan disampaikan oleh semua DPC PDIP se- Bali dalam meningkakan produksi kain endek tradisonal Bali dan penggunaan pakaian berbahan kain tenun endek. Seperti halnya membuka jurusan baru untuk sekolah SMK atau membuat ekstra kurikuler menenun sehingga kedepannya lahir generasi penentun yang kreatif dan inovatif terhadap perkembangan desain tenun di Bali. 

Berbagai keluhan juga disampaikan seperti oleh DPC Kabupaten Karangasem terhadap bantuan bibit Kapas dan bibit sutra yang merupakan bahan baku pembuatan benang untuk diolah menjadi kain endek. Selama ini, ada tiga type produksi, pertama dari katun, kedua campuran dari katun dan sutra dengan perbandingan 50;50 persen dan kain endek yang asli 100 persen terbuat dari benang sutra.

“Saya minta kepada kader partai yang duduk di Komisi II DPRD Bali memperjuangkan anggarannya untuk petani kapas dan petani sutra sehingga pengrajin tidak kekurangan bahan baku,”pungkasnya. (arn) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here