Desa Tusan Mulai Berbenah, Kelola Sampah Maksimalkan TPS 3R

0
149
Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta didampingi Perbekel Desa Tusan I Dewa Gede Putra Bali saat meninjau TPS 3 R di Desa Tusan

KLUNGKUNG- Penanganan sampah menjadi barang bernilai ekonomis, menjadi tantangan bagi aparat Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan.

Tantangan ini coba dijawab dengan memaksimalkan keberadaan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) dengan sistem reduce, reuse dan recycle atau dikenal 3R.
 
Dengan adanya TPS 3 R diharapkan tidak saja mengurangi kuantitas sampah dari sumbernya juga memberikan pembelajaran kepada masyarakat akan pentingnya memilah sampah dari sumbernya. Masyarakat juga diajak merubah prilaku untuk membuang sampah pada tempatnya dan melakukan pengelolaan 3 R terhadap sampah yang dihasilkan.

Menurut Perbekel Desa Tusan I Dewa Gede Putra Bali bersama Kelompok Pemelihara Pemanfaat Made Juliarta, pengelolaan sampah ramah lingkungan dan berkelanjutan dan mencari solusi penanganan persoalans ampah dan dampak lingkungannya, menjadi dasar pemikiran lahirnya TPS 3R Trepti Buana Santi, Desa Tusan.
 
“Proyek ini dikerjakan secara padat karya, kami juga berupaya memberdayakan warga kami. Misinya selain untuk lingkungan juga bagaimana masyarakat kami lebih berdaya,” kata I Dewa Gede Putra Bali, Senin (23/11).  

Ia menjelaskan, TPS 3R Trpeti Buana Santi merupakan usulan dari desa ke Kementerian PUPR. Pemerintah Pusat memberikan bantuan Rp 600 juta plus dana pendampingan dari desa Rp 310 juta.

“Anggaran APBN diperuntukan untuk bangunan dan pengadaan motor viar satu unit. Sedangkan anggaran desa digunakan untuk pengadaan mesin pencacah, pengadaan kendaraan pickup, pengadaan listrik,” ungkap Made Juliarta seraya menyampaikan, lokasi yang ditempati merupakan aset milik Pemprov Bali.

“ Sudah dimohonkan ke Pemprov Bali difasilitasi oleh pak bupati,” ujar Made Juliarta.  
 
Petugas Kelompok Pemelihara Pemanfaat mengambil langsung sampah rumah tangga ke rumah-rumah warga setiap dua hari sekali. Petugas melayani sebanyak 235 KK tersebar di empat dusun. Sedangkan warga diwajibkan membayar retribusi sesuai keputusan musyawarah desa Rp 20 ribu setiap bulan. Untuk sampah industri Rp 30 ribu setiap bulan.

“Rencana kedepan, sampah organik yang kami kelola akan difocuskan menjadi pupuk. Jika ada sampah limbah, kami juga akan kelola menajdi pupuk cair. Sedangkan sampah plastik, kami jual bekeja sama dengan Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI),” imbuh Juliarta.
 
I Dewa Gede Putra Bali menambahkan, sesuai arahan Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, warga wajib meilahs ampah dari sumbernya.

“ Ini terus kami sosialisasikan kepada warga. Memang butuh waktu agar menjadi kebiasaan,” imbuh I Dewa Gede Putra Bali.

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta sempat meinjau langsung TPS 3R Trepti Buana Santi. Bupati I Nyoman Suwirta mengapresiasi pihak Desa Tusan serius dalam mengelola sampah warga.

“Saya minta perbekel dan jajarannya harus berani masuk melakukan edukasi kepada masyarakat Desa Tusan tentang pentingnya memilah sampah dari sumbernya dan sanksi terkait hal tersebut,” pinta Bupati Suwirta. 
 
Bupati mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan, jangan hanya bisa menyalahkan dan protes. Bagi yang mempunyai halaman cukup luas ia menyarankan agar membuat bang daus yang berfungsi sebagai tempat mengolah sampah organik.

Bupati Suwirta mengharapkan agar masyarakat sadar bahwa masalah sampah bukan masalahan pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, maupun pusat saja. “Tapi masalah kita semua, mari sadar akan kebersihan lingkungan,” demikian Bupati Suwirta. (yan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here