Mengenal Lebih Dekat Tentang Penyakit Refluks Asam Lambung

0
174
Kenali Asam Lambung

Bagaimana cara mengecah refluks asam lambung dan heartburn ?
Refluks asam lambung terjadi ketika asam lambung kembali ke kerongkongan. Kerongkongan adalah saluran otot yang menghubungkan tenggorokan dan perut. Gejala asam lambung yang paling umum adalah sensasi terbakar di dada, dikenal sebagai heartburn. Gejala lain mencakup rasa makanan menjadi asam atau seperti muntah di bagian belakang mulut.

Refluks asam lambung juga dikenal sebagai gastroesophageal reflux (GER). Jika anda mengalaminya lebih dari dua kali seminggu, anda mungkin menderita penyakit gastroesophageal reflux (GERD). Selain sering merasakan gejala heartburn, gejala GERD antara lain sulit menelan, batuk atau mengi dan nyeri dada. Kebanyakan orang mengalami refluks asam lambung dari waktu ke waktu. GERD adalah kondisi serius yang mempengaruhi sekitar 20 persen orang di Amerika. Penelitian yang ada saat ini menunjukkan bahwa tingkat GERD meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun belakangan ini. Pelajari tentang langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah refluks asam lambung, seperti ; perubahan gaya hidup, pengobatan, atau operasi dapat membantu memperbaiki gejala refluks asam lambung.

Faktor risiko apa saja yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya refluks asam lambung ?
Siapapun dapat mengalami gejala refluks asam lambung sesekali. Misalnya, anda mungkin mengalami gejala ini setelah makan terlalu cepat. Anda mungkin juga mengalaminya setelah mengonsumsi banyak makanan pedas atau makanan tinggi lemak. Namun apabila kondisi ini tidak terjaga maka akan menjadi penyakit GERD. Faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan GERD adalah kelebihan berat badan atau obesitas, sedang hamil, menderita diabetes, merokok, gangguan makan, seperti anoreksia dan bulimia nervosa, juga dapat menyebabkan beberapa kasus GERD.

dr Gede Bagus Rawida Wijaya

Perubahan gaya hidup apa yang perlu dilakukan ?
Kasus refluks asam lambung ringan atau terjadi hanya sesekali, biasanya dapat dicegah dengan melakukan beberapa perubahan gaya hidup. Sebagai contoh ; hindari berbaring selama tiga jam setelah makan, makan makanan kecil lebih sering sepanjang hari, kenakan pakaian longgar untuk menghindari tekanan pada perut anda, menurunkan berat badan berlebih, berhenti merokok, bantal kepala ditinggikan hingga 10 cm dengan menempatkan penyangga di bawah tiang ranjang anda.

Makanan apa yang harus saya hindari ?
Beberapa jenis makanan dapat menyebabkan refluks asam lambung. Diantaranya ; makanan berlemak, alkohol, kopi, minuman berkarbonasi seperti soda, cokelat, bawang putih, buah yang asam seperti lemon, makanan pedas dan lain lain. Jika anda mengalami refluks asam atau mulas setelah makan makanan tertentu, perlu untuk dihindari.

Makanan apa yang dapat mengurangi gejala GERD ?
Beberapa makanan secara aktif memperbaiki gejala GERD. Sampai saat ini, para peneliti tidak sepenuhnya memahami GERD dan kurangnya bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mengubah pola makan dapat memperbaiki gejala. Namun, sebuah studi tahun 2013 terhadap lebih dari 500 orang menemukan bahwa beberapa makanan memang tampaknya bisa mengurangi frekuensi gejala GERD. Makanan ini mencakup, Protein dari sumber rendah kolesterol, seperti salmon, almond, dan kacang-kacangan, Karbohidrat yang terdapat pada buah-buahan, sayuran, kentang, dan beberapa biji-bijian, Makanan kaya vitamin C seperti buah-buahan dan sayuran, Buah-buahan tinggi serat, magnesium dan kalium, terutama beri, apel, pir, alpukat, melon, persik, dan pisang, Telur, terlepas dari kandungan kolesterolnya, Sayuran hijau, seperti brokoli, bayam, kangkung, asparagus, dan kubis brussel. Penelitian juga menunjukkan bahwa makanan tinggi serat dapat membantu mengurangi gejala GERD.

Obat yang dapat digunakan untuk mengatasi gejala refluks asam lambung ?
Banyak orang bisa mengatasi gejalanya melalui perubahan gaya hidup, namun beberapa orang memerlukan obat untuk mencegah atau mengobati refluks asam lambung. Obat yang dapat digunakan, antara lain : Antasida seperti kalsium karbonat, Penghambat reseptor-H2 seperti famotidine atau simetidin, Pelindung mukosa seperti sukralfat, Inhibitor pompa proton seperti omeprazole, Inhibitor pompa proton adalah perawatan paling efektif untuk refluks asam lambung kronis.

Pengobatan ini umumnya dianggap sangat aman, karena mampu menurunkan produksi asam lambung tubuh anda. Tidak seperti beberapa obat lain, anda hanya perlu meminumnya sekali sehari untuk mencegah gejala. Namun terdapat beberapa efek samping terkait penggunaan obat ini dalam jangka panjang. Seiring waktu, obat ini dapat mengganggu keseimbangan vitamin B-12 pada tubuh anda. Karena asam lambung adalah salah satu pertahanan tubuh Anda terhadap infeksi, obat ini juga dapat meningkatkan risiko infeksi dan patah tulang. Secara khusus, dapat meningkatkan risiko patah tulang pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan. Sehingga penggunaannya harus sesuai dengan instruksi dokter.

Apakah ada metode pengobatan selain yang disebutkan diatas ?
Pembedahan yang diperlukan dalam kasus refluks asam lambung jarang terjadi. Operasi paling umum yang digunakan untuk mengobati refluks asam adalah prosedur yang disebut fundoplication Nissen. Dalam prosedur ini, ahli bedah mengangkat sebagian dari perut dan mengencangkannya disekitar persimpangan tempat perut dan esofagus bertemu. Hal ini membantu meningkatkan tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah (LES).

Prosedur ini dilakukan dengan laparoskopi. Anda harus tinggal di rumah sakit selama satu hingga tiga hari setelah dilakukan. Komplikasi jarang terjadi dan outcomenya sangat baik. Namun, pembedahan dapat menyebabkan perut kembung atau kesulitan menelan. (Penulis : dr. Gede Bagus Rawida Wijaya)

Daftar pustaka

  1. Badillo R, Francis D. Diagnosis and treatment of gastroesophageal reflux disease. World J Gastrointest Pharmacol Ther. 2014.
  2. Yamasaki T, et al. The Changing Epidemiology of Gastroesophageal Reflux Disease: Are Patients Getting Younger?. J Neurogastroenterol Motil. 2018
  3. Argyrou A, Legaki E, Koutserimpas C, et al. Risk factors for gastroesophageal reflux disease and analysis of genetic contributors. World J Clin Cases. 2018;6(8):176-182. doi:10.12998/wjcc.v6.i8.176
  4. Ness-Jensen E, Hveem K, El-Serag H, Lagergren J. Lifestyle Intervention in Gastroesophageal Reflux Disease. Clin Gastroenterol Hepatol. 2016;14(2):175-82.e823. doi:10.1016/j.cgh.2015.04.176
  5. Wu P, et al. Dietary Intake and Risk for Reflux Esophagitis: A Case-Control Study. Gastroesophageal Reflux Disease. 2013
  6. Newberry C, Lynch K. The role of diet in the development and management of gastroesophageal reflux disease : why we feel the burn. J Thorac Dis. 2019;11(Suppl 12):S1594-S1601. doi: 10.21037/ jtd. 2019.06.42
  7. Fossmark R, Martinsen TC, Waldum HL. Adverse Effects of Proton Pump Inhibitors-Evidence and Plausibility. Int J Mol Sci. 2019;20(20):5203. Published 2019 Oct 21. doi:10.3390/ijms20205203
  8. Seeras K, et al. Nissen Fundoplication. StatPearls. 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here