Peredaran Puluhan Ribu Obat Ilegal Digagalkan

0
45
DIGAGALKAN : Puluhan ribu obat ilegal disita dari tersangka Ahmad Mufida Fitra.

DENPASAR – Tim gabungan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar bersama Direktorat Reskrimsus Polda Bali menggagalkan peredaran puluhan ribu obat ilegal. Barang bukti disita dari tersangka Ahmad Mufida Fitra asal Jember, Jawa Timur.

Petugas menyita  31.179 tablet warna putih logo Y yang dikemas dalam 32 botol. Hasil uji laboratorium, obat ini mengandung tihebsifenidil HCI. Kemudian, 5.172 tablet kuning (lima botol) bertuliskan Nova dan DMP mengandung dextromethorpan serta sebuah handphone. Nilai barang bukti diperkirakan Rp 43.400.000  

Kepala Bidang Penindakan BBPOM Denpasar I Wayan Eka Ratnata mengatakan, pengungkapan dilakukan berdasarkan informasi Direktorat Intelijen BPOM adanya pengiriman obat tanpa izin edar ke Denpasar menggunakan jasa ekspedisi, Sabtu (10/10/2020). “Berdasarkan informasi itu, kami berkoordinasi dengan Direktorat Reskrimsus Polda Bali,”ujarnya dalam rilis di Polda Bali, Senin (26/10/2020).  

Pada Minggu (11/10/2020), petugas gabungan melakukan pembuntutan pengiriman paket alamat tujuan di Jalan Sekar Sari, Gang XI nomor 2, Denpasar Timur. Sesaat setelah menerima paket, Ahmad Mufida Fitra ditangkap. “Di paket itu tertulis makanan ikan yang diduga kuat untuk mengelabui petugas,”ungkapnya didampingi Plt. Wadir Reskrimsus AKBP I Gede Nakti Widhiarta.

I Wayan Eka Ratnata menegaskan, kedua jenis obat ini biasanya untuk menambah stamina dalam bekerja. Hanya, efeknya bisa membuat ketagihan atau ketergantungan sehingga berbahaya bagi organ tubuh. Ia juga menjelaskan, tablet dengan kandungan tihebsifenidil di bidang farmasi masih digunakan untuk Parkinson dan masuk golongan obat keras.  “Untuk obat yang disita ini, tidak mencantumkan kandungan, siapa yang produksi termasuk pabriknya,”jelasnya.   

Sedangkan tablet dengan kandungan dextromethorpan yang dulunya dipakai obat batuk sudah tidak diperbolehkan beredar sejak tahun 2013 karena efek risikonya lebih tinggi ketimbang manfaatnya. Terkait peredaran, tersangka asal Jember, Jawa Timur yang hanya lulusan SMA mengaku dijual kepada teman-temannya. :”Satu butirnya dijual Rp 3.000 dan ini sudah ketiga kalinya tersangka menerima paket obat ilegal yang dipasok dari Jawa,”bebernya.      

Plt. Wadir Reskrimsus AKBP I Gede Nakti Widhiarta menimpali, perbuatan tersangka dijerat Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan.   Pasal 196 menentukan bahwa setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standard dan/atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak satu miliar rupiah.

Selanjutnya Pasal 197 menentukan bahwa setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar. (dum)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here