Dua Hotel Ini Dinilai Tak Serius Urus Naker, Desa Adat Kuta Ancam Ambil Sikap

0
416
BAHAS NAKER: Pertemuan terkait masalah tenaga kerja lokal di The Anvaya Beach Resort dan Holiday Inn Express Baruna Bali.

BADUNG – Desa Adat Kuta mengancam akan mengambil sikap terhadap The Anvaya Beach Resort dan Holiday Inn Express Baruna Bali. Kedua akomodasi wisata ini dinilai tidak serius dalam menindaklanjuti permasalahan tenaga kerja lokal yang belum diangkat sebagai karyawan permanen.

Hal itu terungkap dalam pertemuan Bendesa Adat Kuta  Wayan Wasista dengan perwakilan manajemen The Anvaya Beach Resort dan Holiday Inn Express Baruna Bali di Kantor  Lurah Kuta, Senin (19/10/2020). Hadir pada kesempatan itu Lurah Kuta Ketut Suwana, Anggota DPRD I Nyoman Graha Wicaksana serta  LPM Kuta.

“Kami sudah berjuang 1,5 tahun terhadap warga kami yang bekerja di dua hotel ini tapi selalu saja diulur-ulur. Siapa yang tidak mangkel kalau diperlakukan demikian ?. Itulah yang akhirnya membuat kami ingin mengambil sikap seandainya nanti masih saja demikian,” tegas Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista ditemui di akhir pertemuan.

Penyampaian hasil pertemuan kepada tenaga lokal The Anvaya Beach Resort dan Holiday Inn Express Baruna Bali.

Menurutnya, yang diperjuangkan itu tidaklah muluk-muluk. Karena selain berdasarkan aturan perundang-undangan berlaku, itu juga mengacu pada perarem di Desa Adat Kuta. “Dalam aturan, ketika pekerja sudah melalui masa kontrak, itu khan harusnya sudah dijadikan sebagai tenaga permanen. Tapi ternyata terus saja diulur dan sekarang alasan yang mereka gunakan adalah pandemi Covid-19,” jelasnya.

Dalam pertemuan,  kedua hotel diberi tenggat waktu sepekan menyelesaikan permasalahan dengan membuat surat pernyataan  sebagai jaminan bahwa tenaga kerja lokal diangkat sebagai tenaga permanen. “Jika batas waktu itu tidak diindahkan, maka kami juga bisa menunjukkan sikap yang sama. Misalnya dengan tidak memperkenankan pemanfataan area pantai untuk kebutuhan hotel mereka karena sampai saat ini kawasan pantai dikelola desa adat,” ungkapnya.

Wasista juga menegaskan, pihaknya tidak ingin ada akomodasi wisata yang menggunakan pandemi Covid-19 sebagai aji mumpung. Ia berharap agar soal tenaga kerja bisa dilaksanakan sesuai aturan berlaku termasuk memperhatikan perarem di Desa Adat Kuta. “Silahkan rumahkan karyawan kalau memang diperlukan. Tapi sebelum itu, berikan jaminan atau kepastian bahwa mereka dirumahkan dalam status sebagai tenaga permanen,” tegasnya sembari mengatakan bahwa dua hotel tersebut sangat berbeda dengan hotel-hotel lain di wilayah Kuta. Karena lainnya dirasa sangat memahami aturan berlaku, dengan memperhatikan pula status pekerja yang merupakan tenaga lokal.

Lurah Kuta Ketut Suwana  menyayangkan sikap manajemen kedua hotel  dalam menyelesaikan permasalahan tenaga lokal. Bahkan, kedua hotel tersebut seolah menunjukkan sikap kurang respek terhadap masyarakat lokal. Padahal dirinya menilai, menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar, sangatlah penting dalam perjalanan sebuah usaha. “Terus terang kami sangat menyayangkan sikap-sikap seperti ini,” katanya  didampingi Ketua LPM Kuta Putu Adnyana.

Sementara, puluhan pekerja dari dua hotel juga datang tapi berada di luar ruang pertemuan. Mereka kemudian membubarkan diri setelah mendapatkan kabar soal hasil pertemuan. (adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here