
GIANYAR – Meski situasi perekonomian lesu akibat pandemi Covid-19, perlengkapan penjor termasuk sarana upakara lainnya masih tetap diburu masyarakat.
“Ini di luar prediksi saya karena sebelumnya sedikit cemas mengingat situasi Covid-19 ini. Astungkara perlengkapan laris meski tidak seperti galungan enam bulan lalu” kata Nyoman Sriamin, pemilik toko Yadnya Dewi di Jalan Raya Desa Belega, Blahbatuh, Senin (15/9/2020).
Ia menyebutkan harga barang mengalami penurunan hingga 25 persen dibandingkan hari raya Galungan sebelumnya. “Stok barang juga menurun. Dulu bisa 2.000 sampai 3.000 dan saat ini hanya berani sampai 1.000 karena perajin tidak berani membuat banyak” ujarnya.
Segendang sepenarian, pedagang Ni Made Ranti yang berjualan di jalan raya Bona mengatakan pembeli mulai berdatangan empat hari lalu. “Ramainya tidak seperti Galungan enam bulan lalu,”ungkapnya.
Sedangkan penurunan harga seperti padi dari biasanya Rp 20 ribu sekarang menjadi Rp 15 ribu. Lampion Rp 35 ribu dijual Rp 25-Rp 30 ribu.
Terkait fenomena tersebut, Ketua PHDI Gianyar I Nyoman Patra mengatakan bahwa memang dari dulu yadnya konsepnya swastika yakni perputaran. “Kita patut bersyukur melihat ini artinya masih ada gerak ekonomi, masih ada gairah hidup dimasyarakat” jelasnya.
Untuk itu harus diberikan sebuah pemaknaan agar imun masyarakat tetap terjaga. Begitu besarnya dampak pandemi, hingga akomodasi pariwisata banyak yang tutup dan hunian hotel merosot hingga 90% lebih. Namun gairah beryadnya masih berdenyut, inilah yang akan memutar perekonomian. Meski demikian diharapkan tetap menjaga kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan. “Ekonomi, Kesehatan dan kebahagian adalah satu kesatuan saling berkait untuk menuju kesejahteraan” ungkapnya.
Ia pun tak lupa berpesan, karena banyak masyarakat yang di PHK, agar tidak menjalankan yadnya secara kontestasi atau jor-joran. Cukup lakukan yang sederhana. Karena dalam sastra disebutkan dalam situasi gering agung mantra atau yadnya yang besar tidak akan berguna. “sehingga yadnya akan menimbulkan sebuah kehidupan, kedamaian dan kebahagiaan, kalau tidak punya kecilkan, dalam sastra sudah disebutkan, sekuntum bunga pun kau persebahkan kepada ku, aku akan terima” tandas Patra. (jay)








