Dimediasi Walubi, Kisruh Pembangunan Meditasi Center Berakhir Damai

0
239


Berakhir damai

BULELENG – Keresahan warga masyarakat kalau tidak mau disebut kisruh yang dipicu kegiatan rohani dan pembangunan Tempat Meditasi Agama Buddha di Banjar Dinas Waru Desa Gesing Kecamatan Banjar berakhir damai. Melalui mediasi yang dilakukan Wadah Antar Lembaga Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Kabupaten Buleleng, semua pihak menyatakan sepakat untuk menyelesaikan persoalan dengan damai, saling menghormati dan melaksanakan ketentuan peraturan yang berlaku.

“Semua berjalan baik, penuh rasa kekeluargaan dan punya keinginan yang sama untuk menyelesaikan persoalan dengan damai demi terciptanya kerukunan umat beragama serta pembangunan Desa Gesing dan Buleleng yang lebih baik,” tandas Ketua WALUBI Kabupaten Buleleng, Wiharta Harijana, Sabtu (29/8/2020) siang usai pertemuan mediasi di Beatrix – Jalan Udayana Singaraja.


Hal senada diungkapkan Pembimas Agama Buddha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Suliarka usai menyimak dan memberikan saran masukan pada mediasi yang dihadiri oleh Prebekel Desa Gesing, I Nyoman Sanjaya, Bendesa Adat Gesing Made Suardika, Tokoh Masyarakat Desa Gesing Budi Hartawan, serta Hendrik selaku pengelola Yayasan Ekayana Magga Hermitage. “Mediasi berjalan baik, dan harapan kita, tempat tersebut (Meditasi Center,red) itu bisa dibangun secara bersama-sama, demi kabaikan kita bersama sehingga berdampak baik bagi warga dan kerukunan umat,” tandasnya.

Dengan itikad baik dari semua pihak dan peserta mediasi, ia berharap penyelesaian persoalan dilakukan dengan baik dan damai serta sesuai dengan aturan regulasi yang ada. “Harapan kami sebagai pembimas, semua diselesaikan dengan santih,” tandasnya.
Sementara Budi Hartawan selaku Tokoh Masyarakat Desa Gesing Kecamatan Banjar, meskipun menyatakan menerima penjelasan terkait bangunan yang diperuntukan sebagai tempat meditasi atau Meditasi Center bagi semua umat, namun tetap berharap pengelola Yayasan Ekayana Magga Hermitage memenuhi regulasi maupun aturan yang berl

ami tetap berharap dan akan memastikan pembangunan tempat meditasi, jangan sampai dibiarkan begitu saja, karena sudah ada aturan kementerian agama tentang keberadaan 6 agama di Indonesia yang harus ditaati sesuai regulasi dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” tandas Budi Hartawan seraya berharap, Yayasan Ekayana Magga Hermitage segera memenuhi persyaratan perijinan dan melakukan komunikasi serta koordinasi maupun kerjasama dengan aparat serta warga desa setempat.


Menyikapi usul, saran, masukan serta keputusan mediasi, Hendrik selaku pengelola Yayasan Ekayana Magga Hermitage mengungkapkan dapat memahami apa yang selama ini menjadi persoalan di masyarakat.”Dengan pertemuan mediasi ini, kita menjadi tahu semuanya, dan sepakat berjalan bersama,” tandas Hendrik sembari menegaskan, bangunan yang dibangun bukan tempat ibadah, melainkan tempat meditasi atau meditasi center untuk semua umat.

Sesuai ijin yayasan, tempat yang dibangun dan dikelola adalah meditasi center bukan tempat ibadah atau wihara. “Semua syarat perijinan yang dibutuhkan dalam pembangunan, sudah dipenuhi dan ada yang masih dalam proses. Kami siap melengkapi persyaratan yang dibutuhkan,” tandasnya.

Hendrik berharap, keberadaan Meditasi Center dapat bermanfaat bagi warga Gesing yang ramah dan bersahabat.(kar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here