
BADUNG – Belakangan ini, sejumlah wilayah di Bali, mulai merasakan suhu udara yang lebih dingin. Bahkan sebelumnya, suhu dingin sempat menyentuh kategori ekstrem.
Seorang prakirawan Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Kadek Setiya Wati menjelaskan, pada bulan Juni, tepatnya tanggal 21 Juni, posisi semu tahunan matahari berada di titik balik utara pada 23.5 ° LU. Hal ini menyebabkan Belahan Bumi Utara (BBU) ekuator mengalami musim panas sedangkan Belahan Bumi Selatan (BBS) ekuator mengalami musim dingin. “Dan Bali, terletak di sebelah selatan ekuator,” sambungnya.
Permukaan bumi, sambung dia, memerlukan waktu untuk melepaskan panas yang disimpannya. Sehingga suhu udara dingin terendah untuk wilayah Bali biasanya terjadi pada bulan Juli – Agustus.
“Gerak semu tahunan matahari pada bulan Juni yang berada di belahan bumi utara, menyebabkan kawasan Australia mengalami musim dingin, dimana tekanan udaranya maksimum. Namun benua Asia, akan bersuhu lebih panas dengan tekanan udaranya minimum,” jelasnya.
Lanjut dia, pada saat menuju khatulistiwa, gaya Coriolis akan menyebabkan angin yang bertiup dari Benua Australia berbelok ke arah kanan menuju Benua Asia. Angin monsun timur yang bergerak dari Australia menyebabkan Indonesia mengalami musim kemarau. Hal ini karena angin yang bertiup banyak berasal dari daerah gurun pasir yang bersifat kering di bagian utara Australia dan juga melewati laut yang sempit. Oleh karena itu, uap air yang terkandung tidaklah sebanyak yang dibawa oleh angin monsun barat atau monsun Asia.
“Pada musim kemarau, uap air yang tersedia di atmosfer sedikit, sehingga pembentukan awan juga menjadi minimal dan tutupan awan sedikit. Oleh karena itu, radiasi gelombang pendek sinar matahari dapat mencapai dan diserap secara maksimal oleh permukaan bumi pada siang hari. Sementara itu, pada dini, hari radiasi gelombang pendek yang terserap oleh permukaan bumi kembali dilepaskan ke atmosfer dalam bentuk gelombang panjang. Proses pelepasan radiasi gelombang panjang ini dapat terjadi dengan maksimal karena tidak terganggu oleh adanya tutupan awan yang dapat memantulkan kembali radiasi tersebut dan mempercepat proses pendinginan permukaan bumi,” terangnya.
Angin timuran yang bersifat kering dan dingin serta memiliki kecepatan yang lebih tinggi mengakibatkan proses pendingan bumi pada malam hari berlangsung cepat sehingga dirasakan sebagai suhu udara yang dingin.
Meski terasa lebih dingin, Setiya Wati menyebut bahwa kondisi masih tergolong normal. Hal tersebut berdasarkan hasil pengamatan di empat lokasi pengamatan BMKG. “Jika dibandingkan dengan nilai normalnya pada masing – masing lokasi yaitu 23,6° C di Stasiun Geofisika Denpasar; 21,9°C di Stasiun Klimatologi Bali; 22,4°C di Pos Kahang-kahang; dan 24,5°C di Stasiun Meteorologi Ngurah Rai, maka kondisi ini masih pada batasan Normal. Kecuali untuk wilayah Kahang-kahang (Karangasem) yang sempat masuk dalam kategori ekstrem (suhu minimum mencapai 19 C) pada tanggal 7 dan 9 Juli 2024, karena terdapat selisih ± 3°C dari nilai normal setempat,” bebernya.
Suhu udara dingin, kata dia, merupakan fenomena yang biasa terjadi di tiap tahun. Yang mana biasanya suhu udara minimum terendah di wilayah Bali terjadi pada bulan Juli – Agustus. (adi,dha)








