
DENPASAR – Perubahan format play off antara juara Liga 1 musim 2021/2022 Bali United dan juara Liga 1 musim 2022/2023 PSM Makassar untuk menentukan tempat di fase kualifikasi Liga Champions Asia (LCA), nampaknya membuat arsitek Bali United Stefano “Teco” Cugurra tak setuju.
Perubahan format itu dari format single match di tempat netral berubah menjadi home away seperti yang diutarakan Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru Ferry Paulus. Perubahan format play off sendiri akibat dari kepolisian tidak memberikan izin pertandingan pada 18 April 2023 mendatang karena mepet dengan Idul Fitri.
Awalnya Teco setuju dengan sistem play off versi PT LIB sebelum ada perubahan format dan diharapkan laga digeber di Stadion Utama Gelora Bung Karno karena sudah berstandar AFC. Tapi mendengar kabar perubahan format, Teco keberatan dan terkesan mencoba untuk menolak usulan format baru tersebut. Bahkan Teco berkomentar apakah Stadion BJ Habibie di parepare sebagai markas PSM sudah layak dan berstandar AFC.
“Bali United harus ke Parepare? Saya tidak setuju. Apakah stadion disana sudah lolos standar AFC? Bagi saya untuk tim yang akan bermain di Liga Champions Asia dan Piala AFC, harus melakukan play off di tempat yang netral serta bermain di stadion dengan kualitas AFC,” kata Teco, Senin (17/4/2023).
Diakui arsitek yang membawa dua tim berbeda 3 kali juara Liga Indonesia itu banyak stadion yang layak di Indonesia. Teco sendiri tidak menyampaikan harus bermain di Stadion Kapten I Wayan Dipta karena bukan lokasi netral. Disamping itu kemungkinan pada Mei, masih belum bisa digunakan 100 persen karena dalam tahap renovasi oleh Kementerian PUPR.
Kesempatan memang besar jika harus bermain dalam dua leg hanya saja Teco tetap tidak menginginkannya. Sebaliknya dengan sistem single match justru pertandingan akan lebih sengit.
“Satu pertandingan saja sudah cukup. Lebih cepat dan lebih ketat,” pungkas Teco. (ari/jon)








