
TABANAN – Berbeda dengan daerah lain, penilaian sudah dilakukan sebelumnya, penilaian lomba ogoh-ogoh tingkat Kabupaten Tabanan mulai dilakukan tim dewan juri. Dari 26 peserta lomba, sudah sekitar 9 ogoh-ogoh yang ada di Desa Adat kota Tabanan dinilai dewan juri.
Salah satu juri lomba ogoh-ogoh I Gede Arum Gunawan mengungkapkan, penilaian ogoh-ogoh di Tabanan mulai dilakukan dan akan berlangsung selama tiga hari. Ada 26 ogoh-ogoh yang akan dinilai yang mengikuti lomba.
“Sesuai jadwal kami, penilaian ogoh-ogoh tingkat Kabupaten Tabanan akan dilakukan selama tiga hari mulai hari ini (kemarin) sampai Jumat (besok),” ungkap anggota Tim Dewan Juri, I Gede Arum Gunawan, saat menilai salah satu ogoh-ogoh di Tabanan, Rabu (15/3/2023)
Manggala Pasikian Yowana Kabupaten Tabanan ini mengatakan, untuk pengumuman sendiri setelah hari raya Suci Nyepi. Pihaknya di tim juri melakukan pleno terlebih dahulu untuk mengakumulasi nilai dan memperhatikan detail-detail indikator penilaian itu.
“Pengumuman pemenang setelah Hari Raya Nyepi,” kata budayawan ini.
Sementara itu, yang menarik dari penilaian lomba ogoh-ogoh tingkat kabupaten, ternyata tim juri masih menemukan penggunaan bahan tidak ramah lingkungan yakni styrofoam dalam pembuatan karya ogoh-ogoh.
Padahal dalam syarat lomba ogoh-ogoh panitia jelas-jelas telah melarang. Bahan-bahan pembuatan ogoh-ogoh harus alami, ramah lingkungan atau bisa juga bahan dari dedaunan, kacang-kacangan.
Terkait dengan temuan itu, Arum Gunawan menyebut dari panitia lomba sudah melakukan sosialisasi kepada yowana agar pembuatan ogoh-ogoh menggunakan bahan ramah lingkungan. Karena ini untuk mendukung Pergub Bali Nomor 97 tahun 2018 tentang timbulan sampah plastik. Khususnya plastik sekali pakai styrofoam, plastik, spon dan bahan ramah lingkungan.
“Kami sudah mengingatkan agar-agar karya seni pembuatan ogoh-ogoh tetap menggunakan bahan ramah lingkungan, karena ini akan mempengaruhi penilaian,” jelasnya.
Arum Gunawan menambahkan lomba ogoh-ogoh ini tidak sekedar membuat membuat karya seni saja. Melainkan edukasi, penguatan tradisi dan pendalaman ajaran agama. Panitia menekankan penggunaan bahan ramah lingkungan, karena itu sesuai dengan konsep agama dan tradisi. Semua karya seni dan kegiatan upacara memakai bahan dari alam. Dengan tujuan bahan dan sumber dari alam maka akan dikembalikan ke dari alam.
“Kami tidak hanya datang menilai dan tinggalkan, tetapi sharing pengetahuan, pengalaman dan memberikan edukasi kepada yowana yang mengikuti lomba ogoh-ogoh,” tandasnya.
Untuk tema sendiri secara umum ada dua bentuk santa rupa dan rudra rupa. Sebagian besar ogoh-ogoh berwujud rudra rupa yang menyeramkan.
“Tetapi kalau ada yowana yang membuat karya ogoh-ogoh santa rupa kami perbolehkan, hanya saja perbedaan nanti pada prosesi upacara yang dilakukan. Kalau Rudra Rupa dipentaskan sebelum upacara sedang yang santa rupa saat upacara. Karena intinya nyomia kekuatan buka kala, sebelum Hari Raya Nyepi,” pungkasnya. (jon)








