
TABANAN – Meski angka stunting di Tabanan tergolong rendah sekitar 8,5 , namun ini menjadi perhatian serius pemerintah. Diperlukan kesadaran bersama mencegah stunting pada anak sejak dini bahkan sebelum menikah termasuk dari remaja.
Hal tersebut terungkap dalam kegiatan diseminasi audit kasus stunting semester II di Tabanan, Senin (12/9/2022) di ruang rapat lantai III Kantor Bupati Tabanan. Kegiatan ini juga dihadiri langsung Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Tabanan I Made Edi Wirawan.
Pada kesempatan tersebut, Edi Wirawan yang juga Wakil Bupati Tabanan menegaskan cegah stunting itu penting. Maka dari itu, semua pihak harus bekerjasama mencegah stunting tersebut sejak dini.
“Lewat diseminasi audit kasus stunting ini diharapkan dapat dilakukan identifikasi penyebab stunting dan cara pencegahannya agar tidak ada kasus serupa dikemudian hari,” tandas Edi Wirawan.
Wabup Edi memberikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan ini, untuk memberikan pemahaman bersama dalam upaya mencegah stunting sejak dini. Pemerintah telah menetapkan pencegahan dan penanggulangan stunting menjadi program prioritas.
“Sebagai bentuk komitmen Pemkab Tabanan mencegah stunting, telah menggerakan 164 personil dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Tabanan,” sebut Edi Wirawan.
Sementara itu Kepala BKKBN Wilayah Bali dr. Luh Gede Sukardiasih menyebutkan, kalau angka stunting di Tabanan tergolong rendah. Namun demikian hal tersebut harus diantisipasi agar tidak bertambah lagi. Dan yang sudah terjadi mendapat penanganan dengan baik.
Dikatakan, diseminasi audit kasus stunting di Tabanan kata mantan Kadis KB Tabanan ini, bertujuan untuk penyempurnaan kinerja untuk penurunan dan pencegahan kasus stunting di Tabanan.
“Dari audit ini akan diketahui penyebab terjadinya stunting dan langkah yang harus diambil untuk menangani, sehingga diharapkan bisa sembuh,” sebutnya.
Menurut dr. Luh Gede, pihaknya melakukan langkah terobosan untuk mencegah kasus stunting sejak dini. Pencegahan stunting dimulai dari remaja maupun dari calon pasangan pengantin sebelum menikah. Mereka sudah diberikan pemahaman tentang kasus stunting. Dengan demikian , mereka sudah memahami langkah yang harus dilakukan ketika hamil dan memiliki anak agar tidak terjadi stunting.
“Kasus stunting harus dicegah sejak dini, mulai remaja maupun masih calon pasangan pengantin,” ucapnya.
Dijelaskan, sebelum menikah , calon pasangan pengantin mengikuti skrining kesehatan selama tiga bulan. Mereka didampingi oleh tim pendamping keluarga untuk secara rutin mengecek tinggi dan berat badan, lingkar lengan atas serta HB darah mereka terutama calon pengantin perempuan.
“Tim pendamping keluarga akan terus mendampingi sampai pengantin siap dan sehat untuk hamil. Sehingga pas ibu hamil terawat dengan baik sampai melahirkan anak tidak mengalami stunting. Lewat skrining kesehatan ini, stunting bisa dicegah sejak dini,” pungkasnya. (jon)








