
TABANAN- Persoalan lingkungan kini menjadi persoalan Indonesia tapi sudah menjadi persoalan dunia. Kerusakan lingkungan menyebabkan perubahan iklim dunia. Melihat persoalan ini, dunia terus mengkampanyekan pelestarian lingkungan. Hal tersebut menjadi atensi Yayasan IEPF dengan menggandeng Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan menggelar seminar pendidikan lingkungan untuk masa depan dengan peserta para guru di ruang rapat lantai III Kantor Bupati Tabanan, Senin (29/8/2022). Program ini akan menyasar siswa SD kelas IV di seluruh Tabanan
Kepala Dinas Pendidikan Tabanan, I Gusti Putu Ngurah Darma Utama mengatakan, program kerjasama antara pemerintah dan Yayasan IEPF ini akan berjalan hingga tahun 2025 mendatang. Dikatakan, pendidikan lingkungan akan dapat merangsang pola hidup masyarakat Tabanan yang harus dimulai sejak dini. Sehingga mampu mewujudkan gaya hidup berkelanjutan khususnya di kalangan siswa. Kemudian, menanamkan karakter dalam pembelajarannya, dan dapat memperbaiki kerusakan lingkungan ke depannya.
“Kami mengapresiasi untuk adanya program kerjasama ini. Dan tidak hanya anak tapi juga untuk guru-guru dalam mendidik anak didik. Pendidikan lingkungan memang sudah dikenalkan sejak dini terutama kepada siswa,” ucapnya.
Menurutnya, pembelajaran pendidikan lingkungan itu tidak hanya menyasar anak kelas IV SD saja. Namun, nantinya juga kepada para guru. Alasannya, guru memiliki peran penting dalam pendidikan lingkungan ini. Yang akan memberikan pelajaran dengan cara menyenangkan, serta menggali potensi anak didik.
“Guru nanti menggali potensi dan merumuskan pelajaran untuk anak didik, serta konsep-konsep menyangkut wisata alam di Kabupaten Tabanan. Dari sini Pendidikan lingkungan dimulai,” ungkap Mantan Kadishub ini.
Sementara itu, Koordinator Yayasan IEPF Tabanan, Putu Alicia Widianti mengaku program pendidikan lingkungan ini sudah dimulai sejak 2004 lalu. Saat ini, pihaknya sedang fokus untuk di Bali dan NTT. Ada tiga kota menjadi fokus pendidikan, pertama untuk Bali di Tabanan dan dua kota lainnya ialah Kupang dan Manggarai Barat (Labuan Bajo). Pendidikan lingkungan ini merumuskan bagaimana pembangunan berkelanjutan yang dikenalkan sejak dini. Untuk tahap pertama menyasar guru dan siswa kelas IV SD tentang pemahaman lingkungan.
“Fokus awalnya anak kelas IV SD. Karena memang anak kelas IV SD merupakan tengah-tengah yang diperkirakan sudah memiliki inisiatif untuk pendidikan lingkungan. Untuk kelas di atasnya sudah mengarah ke persiapan ujian akhir, maka tidak kami libatkan,” ujarnya.
Alasan memilih Bali, khususnya Tabanan ialah awalnya IEPF sendiri bergerak dari gerakan satu pensil. Singkatnya, membagikan pensil dan buku untuk anak-anak di Tangerang Selatan. Nah, pendiri IEPF sendiri, ada kekhawatiran mengenai kondisi lingkungan terutama di Bali. Melihat Bali pariwisata yang bagus tapi tidak dirawat dengan baik. Sampah tidak terurus.
“Keprihatinan itulah yang membuat Bali dipilih dengan alasan banyak sampah yang harusnya bisa ditanggulangi dengan baik,” sebutnya.
Ditambahkan, nantinya pembelajaran itu ialah mengenal lingkungan terdekat. Sehingga IEPF akan membuat buku pelajaran pendidikan anak-anak yang menyangkut konten lokal, untuk mengenal wisata Tabanan. Kemudian, implementasinya iala seperti cara menghemat air, antisipasi perilaku pencemaran lingkungan, yang dimulai dengan mengenalkan lingkungan terdekat.
“Nantinya ada kerja sama dengan memberikan buku pedoman untuk anak-anak. Baik buku yang tercetak atau buku digital yang dirancang pakar pendidikan menjadi bahan pengajaran,” pungkasnya. (jon)








