
TABANAN – Para peternak ayam petelur di Tabanan di Tabanan sedikit sumringah. Ditengah kenaikan harga pakan yang tak terkendali, kini dibarengi dengan kenaikan harga telur yang cukup signifikan. Saat ini harga telur di tingkat peternak sekitar Rp 49 Ribu per krat. Sementara di pedagang Rp 52 Ribu per krat. Namun kenaikan ini tidak serta merta bisa kembali menaikkan populasi ternak ayam yang telah menurun di angka 40 persen
Koordinator Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Layer Bali, Kabupaten Tabanan, Gede Darma Susila menyatakan, bahwa harga telur memang mengalami kenaikan. Saat ini harga telur di kisaran Rp 49 ribu per krat di tingkat peternak.
“ Saat ini, kenaikan harga telur menyesuaikan dengan harga pakan atau biaya produksi ternak. Kalau sebelumnya harga pakan naik, harga telur tetap,” sebut Darma Susila, Rabu (24/8/2022)
Sebelumya, harga pakan naik, sedangkan harga telur tetap di tempat. Membuat banyak peternak yang gulung tikar. Agar tidak gulung tikar, solusinya peternak mengurangi populasi ternak. Akibatnya, dari 100 persen populasi ayam ternak milik peternak, kini hanya tersisa 40 persen.
“Kalau dulu untuk Tabanan, populasi normal 3 juta ekor turun dan masih tersisa sekitar 40 persen terutama saat pandemi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, dari 100 persen pakan ternak, sekitar 80 persen import. Harga konsentrat sebelumnya Rp 350 ribu, sempat menjadi Rp 500 ribu dan kini turun diangka Rp 470 ribu per zak. Campuran pakan lain seperti jagung, juga mengalami kenaikan yang awalnya Rp 3.500 per Kg naik menjadi Rp 6 ribu dan dan kinimulai menurun di kisaran Rp 4.500-5.000 per Kg. Sedangkan untuk dedak stabil di harga Rp 3.500 hingga 3.800 per Kg.
“Saat ini harga bahan baku pakan naik, meski sempat ada sedikit penurunan. Akhirnya peternak memilih solusi kurangi populasi Meski harga telur saat ini naik, tidak serta merta bisa meningkatkan populasi karena ada kewajiban lain,” jelasnya.
Menurut dia, kenaikan pakan itu terjadi sejak awal pandemi. Awal-awal Pandemi 2020, mengalami gangguan distribusi, ditambah lagi setelah perang Ukraina. Sehingga ada kekurangan bahan baku yang masuk ke Indonesia. Inilah yang kemudian membuat peternak kesusahan dalam mempertahankan populasi ternaknya.
“Karena memang pada saat awal pandemi hingga beberapa waktu lalu itu, kerugian per 1000 ekor itu sekitar Rp 200 ribu per hari. Jadi ditotal saja, per 1000 ekor peternak itu rugi sekitar Rp 6 juta per bulan,” paparnya.
Ia menambahkan, saat ini peternak itu sedang berusaha mengembalikan beban bunga yang sebelumnya. Karena penanganan telur itu berbeda dengan penanganan pemerintah untuk pengelolaan beras, misalnya saja. Biasanya pemerintah melakukan operasi pasar.
Ia mencontohkan, saat petani mengalami surplus dalam panen padi, atau panen raya. Maka kelebihan panen itu akan diserap Bulog dan Dolog. Sehingga ketika stok padi berkurang, maka bisa didistribusikan sehingga harga stabil. Sedangkan perlakuan terhadap Telur tidak bisa. Sebab, telur tidak dapat disimpan lama. (jon)








