
TABANAN – Selama ini kain tenun songket hanya dikenal diproduksi di wilayah Klungkung, Karangasem dan beberapa Kabupaten lain di Bali. Namun ternyata Tabanan sendiri memiliki tradisi tenun songket tersebut. Bahkan alat yang digunakan masih sangat tradisional yakni cagcag. Untuk menyelesaikan satu lembar kain songket paling tidak membutuhkan waktu sebulan. Hanya para penenun kesulitan bahan baku dan pemasaran karena mahalnya harga kain songket.
Tenun khas Tabanan ini masih dikerjakan segelintir warga Desa Padangan, Pupuan. Mereka hanya tinggal 9 orang yang tergabung dalam kelompok Gemuh Sari. Mereka dengan setia tetap melakukan proses menenun kain songket disela-sela kesibukan mereka sebagai petani.
Nampak beberapa perempuan yang lebih banyak sudah paruh baya menenun kain songket dengan alat tenun sangat sederhana yakni Cagcag sambal duduk di lantai. Bunyi cag-cag terdengar setiap tangan penenun menghentakkan kayu untuk merapatkan benang, sehingga alatanya disebut cagcag. Mereka tetap menjalankan profesinya ini meski di tengah himpitan kendala yang dialami. Selain persoalan bahan baku benang, juga pemasaran produk yang dihasilkan, karena harga kain songket tergolong sangat mahal
Apalagi untuk menghasilkan satu kain tenun, butuh waktu paling tidak sekitar satu bulan. Itupun kalau dikerjakan secara kontinyu. Namun ketika mereka sibuk di kebun atau sawah, waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi.
Perbekel Desa padangan I Wayan Warditha ketika dikonfirmasi mengakui,kerajinan tenun songket masih eksis di desa. Tenun kain songket ini juga masih menggunakan alat tradisional cagcag. Diakui, pengrajin tenun ini hanya ada satu kelompok yang beranggotakan Sembilan orang perempuan.
“Sebenarnya mereka aslinya orang dari Karangasem yang datang dan menetap ke Padangan. Mereka tetap menjalankan profesinya jadi tukang tenun selain Bertani,” ungkap Warditha.
Untuk tetap mempertahankan tradisi tenun songket ini, pihaknya juga tetap melakukan pembinaan termasuk memberikan uang pembinaan sebagai modal kerja. Bahkan kelompok ini sudah menjadi binaan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten Tabanan.
“Beberapa kali dibawa pameran di Tabanan, PKB termasuk ke Jakarta, tapi penjualannya masih kecil. Kan kita tahu semua harga kain songket Bali sangat mahal, itu yang jadi kendala,” sebut mantan Anggota DPRD Tabanan dan Bali ini.
Beruntung, mereka masih kontak dengan keluarga mereka yang ada di Karangasem. Untuk kebutuhan bahan baku berupa benang warna warni emas dan perak, mereka mendapatkan dari Karangasem. Bahkan kain yang mereka hasilkan lebih banyak diambil keluarga untuk dijual di wilayah Karangasem atau memenuhi kebutuhan pelanggan mereka.
“Syukurnya mereka masih ada kerjasama dengan kerabatnya di Karangasem yang juga penenun kain songket tradisional. Untuk kebutuhan benang masih bisa dibantu termasuk pemasaran kain songket yang dihasilkan,” sebutnya.
Ke depan, pihaknya tetap akan membina dan pengembangkan kerajinan tenun songket tradisonal cagcag ini. “Kami terus melakukan pembinaan termasuk bersama pemerintah. Mudah-mudahan ekonomi kembali pulih sehingga pemasaran lebih terbuka,” pungkasnya. (jon)








