GIANYAR – Hingga awal 2022, tercatat ada 1.277 koperasi di Kabupaten Gianyar. Dari jumlah itu, 423 koperasi sudah tidak aktif dan ini mengalami penambahan 286 unit dari tahun 2019.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Gianyar I Wayan Arsana menyebut banyak faktor menyebabkan koperasi ‘sakit’ hingga akhirnya gulung tikar. Di antaranya, kelalaian pengurus dan nasabah menunggak pembayaran pinjaman hingga terjadi kredit macet. Terlebih, di tengah situasi ekonomi sulit dampak pandemi Covid-19. Penyebab lainnya berkaitan dengan dana likuiditas yang disediakan tidak sesuai standar aturan.
“SHU rata-rata turun di masa pandemi dan jumlah koperasi tidak aktif bertambah. Masalah koperasi erat sekali dengan ekonomi masyarakat disebabkan daya bayar pendapatan masyarakat menurun. Paling banyak adalah rata-rata dana likuiditasnya tidak sesuai standar. Minimal harus punya likuiditas 12-1 5% sebagai antisipasi debitur yang punya tabungan atau deposito bila sewaktu-waktu akan dicairkan,” I Wayan Arsana, Rabu (2/2/2022).
Arsana mengungkapkan, permasalahan awal muncul ketika nasabah tidak bisa mencairkan dana tabungan atau deposito akibat dana likuiditas tidak mencukupi.
“Ketika ada yang mau mencairkan, uangnya tidak ada karena masih beredar. Sementara, dana likuiditas dalam bentuk tabungan atau cash tidak mencukupi. Ini yang menjadi sumber permalsahan awal,” ungkap Arsana.
Ia menegaskan, pihaknya tidak bisa mengintervensi terkait dana likuiditas, hanya sebatas melakukan pembinaan.
“Kami tetap berupaya setiap saat memberikan pembinaan, minimal 15% likuiditas. Tidak bisa intervensi, karena kita sifatnya pembinaan,” ujarnya. (jay)








