
DENPASAR – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali menyelenggarakan talkshow dengan topik ‘Peluang dan Tantangan Ekspor Kopi ke Eropa dan Australia’ sebagai rangkaian “Bali Jagadhita Culture Week 2021” (BJCW 2021) mulai 4 sampai 6 Oktober 2021.
Acara yang dilaksanakan secara daring dihadiri Atase Perdagangan Kedubes RI Brussel, Kepala Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) Sydney, Wakil Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), serta UMKM dari wilayah Bali-Nusa Tenggara.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Rizki Ernadi Wimanda menyampaikan, talkshow ini merupakan bagian dari kegiatan BJCW 2021 yang selaras dengan kegiatan flagship Bank Indonesia yaitu Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang mengangkat tema ‘Sinergi, Globalisasi, dan Digitalisasi UMKM dan Sektor Pariwisata’.
Rizki memaparkan, berdasarkan hasil survei Bank Indonesia terhadap 63 UKM yang ada di kawasan Bali dan Nusa Tenggara, 56% UKM mengalami penurunan penjualan di semester I 2021. Pemberlakuan PPKM darurat selama Juli memperparah penurunan penjualan menjadi 73%.
“Sebagian besar (39%) mengalami penurunan antara 20-50%. Hasil survey juga mencatat penggunaan e-commerce dalam penjualan produk ke luar negeri juga masih minim. Hanya 11 % yang memanfaatkan e-commerce lokal dan 2% memanfaatkan e-commerce global, seperti AliBaba.com untuk komoditas kopi,”ujar Rizki Ernadi Wimanda.
Kendati demikian, kata Rizki Ernadi Wimanda, penurunan ini tidak berpengaruh terhadap UMKM dengan produk berorientasi ekspor khususnya Kopi. Indonesia menduduki peringkat ketiga pengekspor kopi terbesar setelah Brazil dan Vietnam, serta produsen kopi terbesar keempat di dunia.
Selain itu, Balai Karantina Pertanian Denpasar mencatat ekspor biji kopi Bali pada 2020 mengalami peningkatan cukup signifikan hingga 47% (yoy). Rizki berharap kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan kepada UMKM lokal terkait tren pasar dan standar yang diperlukan untuk mulai bisa mengekspor produk kopi, khususnya ke pasar Eropa dan Australia
Penggiat ekspor di Eropa dan Australia, Mery Indriasari (Atase Perdagangan Brussel) menjelaskan, keuntungan yang didapat UMKM jika berhasil masuk ke pasar Uni Eropa adalah sistem single market atau custom union. Pemasaran sebuah produk tidak hanya ke satu negara, tapi juga ke beberapa negara di Uni Eropa. “Untuk itu, produk yang ingin dipasarkan harus berdaya saing tinggi, terstandarisasi dan mengikuti tren perkembangan. Produk yang digemari konsumen Eropa saat ini adalah produk ramah lingkungan dan sehat,”ungkapnya.
Kepala ITPC Sydney, Ayu Siti Maryam menyebutkan, secara umum, pasar di Eropa dan Australia lebih menyukai impor biji kopi karena mereka sendiri yang akan memanggang biji kopi sesuai selera master roaster. Hal ini sekaligus untuk melindungi tenaga kerja lokal. Karenanya, bea masuk kopi roasted lebih tinggi dibanding biji kopi.
Ia menambahkan, peluang ekspor kopi ke Negeri Kanguru sangat terbuka lebar karena bea masuk yang dikenakan sebesar 0 persen dan sebagian besar masyarakat Australia lebih gemar minum kopi yang dijual di kedai kopi kecil. “Kopi Indonesia sangat diminati oleh penduduk Eropa dan Australia karena kualitasnya lebih tinggi, meskipun harganya lebih mahal dibanding kopi Brazil dan Columbia. Untuk itu, petani kopi Indonesia harus percaya diri untuk dapat mengekspor ke negara-negara tersebut,”paparnya.
Senada dengan kedua pemateri, Wakil Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto berharap talkshow ini dapat meningkatkan pengetahuan dan minat para pelaku UMKM, khususnya produk kopi untuk melakukan ekspor, serta mengajak stakeholder terkait untuk membantu para pelaku UMKM lokal dalam memasarkan produk-produknya. (sur)








