
GIANYAR – Gubernur Bali I Wayan Koster menegaskan, ajaran sampradaya yang datang dari luar harus betul-betul diwaspadai karena masuk ke nilai yang sangat fundamental dalam tatanan masyarakat Hindu.
“De meadat, de nyembah leluhur, de mesanggah, mih, bahaya ini. Dalam urusan ini, kita harus tegas dan berani. Sakali kita salah langkah, hancur kita di bawah. Jangan sampai kena rayu ini itu. Saya melihat ini sangat bahaya,”tegas Koster saat pelantikan Majelis Desa Adat, Paiketan Pawistri, Pecalang, Yowana se-Bali di wantilan Pura Samuantiga, Bedulu, Blahbatuh Gianyar, Sabtu (19/12/2020).
Koster berpesan agar desa adat melaksanakan surat keputusan bersama (SKB) yang telah dikeluarkan Majelis Desa Adat dan Parisada Hindu Dharma Provinsi Bali. “Desa adat harus tegas, laksanakan SKB itu, de baange kene keto. Kita sudah ada dresta, to gen jalanang pang luwung, jangan misi kene keto,”ujarnya.
“Kita punya Ratu Gede itu sungsung, punya sesuhunan itu sungsung. Kalau sudah seperti itu kita akan kuat dan solid. Taksu Bali akan bangkit, Bali ini akan medengen (berwibawa,red). Dimana datangnya medengen, ya dari desa adat, aura Bali akan muncul lagi, taksunya akan makin kuat. Taksu Bali akan menurun kalau sudah terpapar. Jangan sampai ada bendesa yang terpapar, tolong cek itu bendesanya. Bagaimana menjaga taksu Bali kalau bendesanya terpapar,”ujarnya berpesan kepada MDA.
Ia juga telah memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali agar tidak ada kegiatan sampradaya di sekolah-sekolah. “Guru, siswa, jangan sampai kena. Tidak boleh ada yang mengadakan kegiatan seperti itu di sekolah. Ini kesadaran koltif kita sebagai krama Bali. Desa adat ini salah satu keunggulan kita, yang membuat Bali terhormat, dicintai, disenangi. “ngudyang iraga sube ngelah ne melah misi ngalih kene keto diluar, pantesne orahin peng care Bali, de misi kene keto” ungkapnya.
Pernyataan Koster tersebut tidak terlepas dari kecintaannya terhadap Bali dan desa adat sebagai benteng utama. “Bukan saat menjadi gubernur saja, tapi ini adalah rangkaian dari semenjak saya di DPR RI supaya Bali ini eksis sepajang zaman, dengan berbagai dinamika dan permasalahanya yang harus kita atasi bersama. Bali tidak punya tambang, atau SDA lainnya, kita hanya miliki budaya agama adat istiadat yang menjadi satu yang membuat kita kuat” tandas mantan anggota DPR RI tiga periode ini. (jay)








