
KUTSEL – Tawur Balik Sumpah Agung (Catur Niri) telah terlaksana di area Nista Mandala Kawasan Pura Luhur Uluwatu, Sukra Umanis Langkir, Jumat (3/7/2026). Prosesi tersebut merupakan kegiatan nyangra Pujawali lan Padudusan Agung yang puncaknya dijadwalkan terlaksana pada Anggara Kliwon Medangsia, Selasa (7/7/2026) mendatang.
“Hari ini adalah rangkaian kegiatan nyangra Pujawali lan Padudusan Agung. Hari ini dilaksanakan Tawur Agung ring sor, kapuput oleh tiga sulinggih,” ungkap Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta.
Bagi Sumerta, prosesi tersebut memiliki skala yang cukup besar. Yang mana mendapat sambutan sangat antusias dari krama dan masyarakat pada umumnya. “Adik-adik kita dari SMA 3 Kuta Selatan yang ikut membantu dalam proses kegiatan kali ini,” sambungnya.
Dalam pelaksanaannya, juga hadir unsur pemerintah (Guru Wisesa) dan tokoh-tokoh, baik di tingkat Provinsi Bali maupun Kabupaten Badung. Di samping itu, hadir pula Bendesa Adat se-Kecamatan Kuta Selatan.
Dalam kesempatan tersebut Sumerta menekankan bahwa rangkaian kegiatan kali ini bukanlah Karya. Melainkan Pujawali yang dirangkaikan dengan upacara Padudusan Agung, yang dilaksanakan lima tahun sekali. “Kalau Manca Wali Krama adalah 10 tahun sekali. Dan kalau Pujawali saja, itu enam bulan sekali,” jelasnya sembari mengucap syukur kegiatan telah berjalan dengan baik dan tertib sebagaimana harapan.
Selaku Pengemong Pura Luhur Uluwatu, Sumerta juga mengimbau, agar kegiatan mepinton Pelawatan agar melakukan penyesuaian. Utamanya berkenaan dengan waktu pelaksanaan. Mengingat pada jam-jam tertentu, utamanya sore hari, DTW Kawasan Luar Pura Luhur Uluwatu mendapat kunjungan banyak wisatawan.
“Ini berkaitan dengan kemacetan yang mungkin terjadi. Jadi kami harap untuk bisa menyesuaikan,” sebutnya.
Di samping itu, dia juga kembali mengingatkan agar meniadakan penggunaan kantong plastik. Hal tersebut tiada lain dalam rangka mengantisipasi timbulan sampah plastik di dalam kawasan. “Ini untuk menjaga kebersihan dan keasrian Pura dan lingkungannya. Selain itu, kami juga berharap kepada atiti yang tangkil, agar ikut membersihkan sisa sarana persembahyangan masing-masing,” pungkasnya.
Sementara Penglingsir Puri Agung Jro Kuta sekaligus Pangempon Pura Luhur Uluwatu, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya alias Turah Joko mengatakan, pelaksanaan Tawur Balik Sumpah Agung memiliki makna penyucian alam semesta. Melalui upacara tersebut, umat Hindu memohon agar keseimbangan antara Bhuana Alit dan Bhuana Agung kembali harmonis dan suci.
“Acara hari ini tidak lain adalah kita bagaimana kita mensucikan bumi. Karena tawur adalah untuk kita mengembalikan Bhuana Alit dan Bhuana Agung supaya kembali suci. Itu harapan kita,” terangnya.
Terpisah, Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa yang turut hadir dalam gelaran Tawur Balik Sumpah Agung tersebut menegaskan bahwa gelaran upacara itu memiliki makna yang sangat penting. Tidak hanya sebagai bentuk pelaksanaan ritual keagamaan, melainkan juga prosesi penyucian alam semesta, sekala dan niskala.
“Ini adalah karya utama yang luar biasa. Tidak sekadar melaksanakan kegiatan keagamaan, tetapi juga mengandung makna penyucian jagat sekala dan niskala. Dengan penyucian inilah Bali tetap bersinar dan tetap menjadi daerah yang penuh kerahayuan,” sebutnya.
Gelaran upacara itu, sambung dia, juga menjadi bagian dari pelaksanaan dharma agama sekaligus dharma negara. Yang mengingatkan seluruh masyarakat agar senantiasa menjaga persatuan, meningkatkan sradha bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta memohon keselamatan bagi Badung, Bali, maupun Nusantara.
Karenanya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung dipastikan mendukung penuh pelaksanaan seluruh rangkaian upacara tersebut. Kata dia, melalui Dinas Kebudayaan, Pemkab Badung telah mengalokasikan anggaran senilai Rp 2 miliar untuk pembiayaan upacara Tawur hingga Puncak nanti.
“Kami memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan upacara ini. Sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada masyarakat, sekaligus kita subhakti majeng ring Ida Bhatara, untuk selalu kita diberikan kesehatan, kerahayuan,” pungkasnya. (adi)








