
DENPASAR – Stan kuliner Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 menggunakan sistem roling. Setelah kloter pertama menyelesaikan masa berjualan selama 15 hari sejak ajang kesenian ini dimulai, kini giliran pelaku UMKM kuliner kloter kedua menempati stan di kawasan Taman Budaya Bali (Art Center) Denpasar.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali Try Arya Dhyana Kubontubuh mengklaim omzet penjualan yang dibukukan pelaku UMKM kuliner kloter pertama mencapai Rp 2.507.173.000. Hal itu dikatakannya saat ditemui di Taman Budaya Denpasar, Selasa (30/6) malam,
Lebih lanjut, pergantian pedagang hanya dilakukan terhadap pelaku usaha, sedangkan konsep, jenis kuliner, hingga pola pengawasan tetap dipertahankan agar pengunjung tetap memperoleh pilihan makanan yang sama.
“Jumlah sama, malah hampir nggak ada perbedaan ya, karena kita upayakan jadi yang kemarin stan-nya itu babi guling, kita ganti juga babi guling tapi pelakunya beda. Jadi sudah kita pikirkan semua lah termasuk posisi dari stan-stan itu,” ujarnya.
Ia menjelaskan pemerintah tetap melakukan pengawasan rutin terhadap seluruh pelaku UMKM kuliner sebagaimana yang dilakukan pada kloter pertama.
“Sama-sama kami awasi rutin, hanya ganti pelaku UMKM saja. Bahkan kita upayakan yang sebelumnya babi guling, yang penggantinya pun babi guling juga,” katanya.
Try Arya juva mengatakan pelaku UMKM kloter pertama mengaku puas selama mengikuti PKB. Meski sempat mengalami penurunan omzet menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, kondisi tersebut tertutupi melalui keikutsertaan mereka pada kegiatan lain yang difasilitasi pemerintah.
“Kloter 1 sangat puas. Memang mereka kena dua hari raya kemarin, Galungan sama Kuningan, sempat sebelum hari raya itu omzetnya agak drop. Tapi kemarin kita ada event yang lain kita bawa mereka ke sana, jadi ya sudah hampir sama lah. Kemarin kan tembus Rp 2,5 miliar lebih, jadi mudah-mudahan yang kloter kedua juga kurang lebih seperti itu,” paparnya.
Ia menegaskan penempatan stan kuliner tidak didasarkan pada asal kabupaten atau kota pelaku usaha, melainkan keberagaman jenis makanan khas Bali agar seluruh kekayaan kuliner daerah dapat ditampilkan kepada pengunjung.
“Kita nggak melihat daerahnya, tapi kita mengupayakan di setiap kloter ini memang ada makanan khas dari kabupaten/kota masing-masing. Jadi yang diwakili itu adalah jenis makanannya,” katanya.
Menurutnya, hingga saat ini babi guling masih menjadi kuliner dengan peminat terbanyak. Selain itu, minuman tradisional seperti cendol serta jajanan khas Bali seperti laklak juga banyak diminati pengunjung.
“Sementara sih yang paling banyak itu memang masih babi guling. Kemudian juga model-model minuman tradisional, cendol dan makanan ringan tradisional kayak laklak,” tuturnya.
Untuk menjamin keamanan pangan, seluruh pelaku UMKM kuliner kloter kedua juga akan menjalani pemeriksaan dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Oh iya, hari Kamis nanti cek BPOM jam 4 sore,” katanya.
Try menambahkan pergantian pelaku usaha dilakukan pada malam hari agar operasional stan tidak terganggu.
“Mulai 28 Juni. Pergantiannya 27 Juni malam. Selesai mereka bongkar, yang loading masuk 27 menjelang dini hari, kita awasi langsung,” sebutnya.
Meski tidak memasang target khusus terhadap omzet kloter kedua, pihaknya berharap capaian transaksi PKB tahun ini minimal mampu menyamai tahun sebelumnya yang mencapai sekitar Rp 5 miliar.
Ia optimistis capaian tersebut dapat diraih karena seluruh pelaku UMKM tidak dibebani biaya sewa stan sehingga keuntungan yang diperoleh lebih besar dibandingkan berjualan di tempat biasa.
“Para pedagang sudah pasti untung karena mereka tidak dikenakan biaya sewa. Saya sempat tanya salah satu pedagang, perbandingan jualan di tempat biasa dengan di sini sangat jauh, lebih tinggi di sini,” tukasnya.
Dibandingkan tahun lalu, jumlah stan kuliner memang lebih sedikit. Namun kondisi tersebut justru membuat area makan menjadi lebih luas dan nyaman sehingga dinilai mampu meningkatkan daya tarik pengunjung.
Terkait harga makanan, Try Arya memastikan seluruh pelaku UMKM telah menyerahkan daftar menu beserta harga sebagai salah satu syarat mengikuti PKB. Daftar tersebut dipasang di setiap stan sehingga masyarakat dapat mengetahui harga sebelum membeli.
“Mereka sudah menyetorkan daftar menu dengan lengkap beserta harga. Itu kita tempelkan semua di sini. Kalau merasa mahal kan tinggal lihat daftar menunya yang ada di setiap stan,” pungkasnya.
Untuk diketahui, total terdapat 72 pedagang yang lolos dan terlibat dalam pengelolaan stan kuliner PKB 2026. Masing-masing kloter mendapat kesempatan berjualan selama dua minggu. Kloter I berlangsung sejak pembukaan PKB pada 13 Juni hingga 27 Juni 2026, sementara kloter II melanjutkan dari 28 Juni hingga 13 Juli 2026. (*)








