
KUTSEL – Jalan Pratama Raya, Kecamatan Kuta Selatan, hingga saat ini masih menjadi akses darat satu-satunya menuju kawasan wisata tirta, Tanjung Benoa. Namun sayang, di balik peran pentingnya itu, sentuhan perhatian dinilai masih sangat minim. Permukaannya tidak rata, bergelombang, dan banyak tambal sulam.
Bendesa Adat Tanjung Benoa, I Made ‘Yonda’ Wijaya mengkritik keras kondisi ini. Baginya, sejalan dengan program Sapta Kriya AdiCipta, perbaikan Jalan Pratama Raya sudah seharusnya menjadi prioritas.
“Sepanjang Jalan Pratama ini terdapat banyak hotel berbintang dan restoran. Tanjung Benoa, merupakan daerah penyangga kawasan Nusa Dua, sehingga sangat tidak elok jika kondisi jalannya seperti ini,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Badung tersebut.
Belum lagi ketika musim hujan, ada banyak titik di Jalan Pratama Raya yang berubah menjadi kubangan air. Hal ini, menurut dia, tentu akan memberikan dampak buruk bagi kenyamanan dalam berwisata.
Ironisnya lagi, sepengetahuan dia, sudah belasan tahun Jalan Pratama Raya belum mendapat sentuhan pembenahan yang signifikan. Padahal menurut dia, arahan dari Pemerintah Pusat hingga Daerah, menekankan bahwa pembangunan infrastruktur harus menjadi prioritas.
Peningkatan infrastruktur penunjang sektor pariwisata, sambung dia, sebelumnya juga telah menjadi salah satu catatan rekomendasi DPRD Badung terhadap LKPJ Bupati. Karenanya, perbaikan terhadap Jalan Pratama Raya diharapkan dapat segera terealisasi pada tahun 2026 ini, baik melalui Anggaran Induk maupun Perubahan.
“Sesuai fungsi kontrol dewan, saya akan terus memantau kinerja pemerintah dalam menindaklanjuti persoalan ini. Ini hanya pengingat, karena dalam rekomendasi DPRD sudah jelas disebutkan bahwa infrastruktur penunjang pariwisata, terutama di daerah penyangga, harus menjadi perhatian,” pungkasnya. (adi)








