
GIANYAR – Karya tari ritual Svara Bumi tampil sebagai jembatan dialog budaya antara Bali dan komunitas Aborigin Australia di Geoks, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kamis (12/2/2026). Pementasan ini digagas Ayu Linda Gayatri selaku Art Director yang selama hampir delapan tahun menetap di Australia dan aktif membangun jejaring seni lintas negara.
Kolaborasi ini mendapat dukungan akademik melalui kerja sama dengan University of New South Wales (UNSW). Ayu Linda mengungkapkan, kerja sama tersebut terjalin lewat Prof. Dr. Manolette Mora yang juga terlibat dalam UNESCO. “Beliau membuka jalan agar Svara Bumi bisa sampai ke Bali dan kelak dibawa ke Australia. Bahkan ada gagasan membangun pendopo Bali di sana sebagai ruang pertemuan budaya,” ujarnya.
Menurut Linda, Svara Bumi lahir dari kegelisahan atas kerusakan bumi dan renggangnya relasi antarmanusia. Karya ini mengingatkan bahwa bumi memiliki suara yang harus didengar dan dijaga. “Pesannya tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Jika ketiganya selaras, keharmonisan dunia akan terjaga,” tegas cucu mendiang seniman drama gong Dadap tersebut.
Ia menilai Bali dan masyarakat Aborigin memiliki akar spiritual yang serupa. Keduanya hidup dalam tradisi ritual dan kosmologi yang memuliakan alam. Kesamaan itu, menurutnya, jarang terekspos. “Saya ingin mempertemukan ritual Aborigin dan Bali agar menjadi karya yang kuat dan memukau. Ini jalan membangun jembatan agar suatu saat seniman Bali bisa tampil di Australia,” katanya.
Melalui wadah Arada Bali Entertainment yang dibangunnya bersama sang suami, Kadek Ambarajaya, kolaborasi ini dirancang sebagai ruang kreatif generasi muda lintas negara. Ambarajaya yang bertindak sebagai Produser dan International Strategy Consultant sekaligus terlibat sebagai penari, memperkuat arah kolaborasi. Arada Bali Entertainment juga menggandeng komunitas Tunggaling Semesta dengan melibatkan Dewa Selamat alias Dewa Mamet, maestro kecak muda yang menghadirkan vokal ritmis khas Bali.
Proses kreatif terbilang singkat—dua pekan latihan intensif—namun konsepnya telah dirintis sebulan sebelumnya melalui pertemuan daring lintas Bali–Australia.
Ayu Linda sendiri memiliki latar belakang unik. Lulusan teknologi informasi yang kemudian meraih Advanced Diploma Hospitality di Australia dan bekerja sebagai chef itu justru menemukan kembali panggilan seninya di negeri rantau. “Meski jalur saya IT dan memasak, jiwa seni sejak kecil membawa saya kembali untuk menyuarakan bumi,” tuturnya.
Salah satu penampil, Echa Laksmi, mengaku kolaborasi ini datang secara tak terduga. “Saya sudah lama tidak menari dan lebih fokus sebagai kreator konten. Tapi proyek ini seperti panggilan untuk kembali ke dunia tari. Kami merancang alur dan suasana lewat pertemuan daring hingga akhirnya terwujud hari ini,” katanya.
Secara artistik, Svara Bumi mempertemukan vokal kolektif kecak Bali dengan ekspresi gerak serta spiritualitas Aborigin yang memuliakan tanah dan roh leluhur. Kesamaan kosmologi Bali melalui konsep Tri Hita Karana dengan pandangan Aborigin tentang Country sebagai entitas hidup menjadi fondasi dialog lintas budaya ini. Struktur dramatiknya dibangun dalam lima alur—ritual, kegembiraan, pemberontakan, bencana, dan mediasi—yang merepresentasikan siklus relasi manusia dengan bumi dari harmoni hingga pemulihan.
Selain Svara Bumi, pementasan juga menampilkan Tari Pendet didikan Sanggar Nrithya Graha sebagai pembuka, Legong Brihannala dari Arjuna Production, serta Tari Kembang Ura dari Tanzer Dance Company sebagai bingkai tradisi Bali yang terus hidup.
Melalui pementasan ini, Svara Bumi menegaskan peran seni pertunjukan Bali bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan juga diplomasi budaya dan jembatan spiritual antarbangsa—menyuarakan pesan universal bahwa bumi adalah rumah bersama yang wajib dijaga. (sur)








