
Demer Ramal Bali 2030 Akan Stagnan dan Alami Bahaya Besar
Singgung Ketertinggalan Infrastruktur di Buleleng dan Karangasem
DENPASAR – Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih (Demer), menyoroti kondisi masyarakat di Buleleng dan Karangasem yang dinilai tertinggal dari sisi infrastruktur. Menurutnya, lemahnya infrastruktur di dua wilayah tersebut berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi yang tidak merata di Bali.
“Sebenarnya kalau boleh dibilang, kondisi yang berat di Bali itu adalah pertumbuhan ekonomi di Buleleng dan Karangasem. Kenapa demikian? Karena dua daerah ini sangat sedikit disentuh oleh pariwisata. Pertumbuhan ekonomi Bali tinggi karena pariwisata, tetapi dua wilayah itu tertinggal karena infrastrukturnya lemah,” ujar Demer usai memberikan sambutan dalam kegiatan sosial perayaan HUT ke-61 Partai Golkar di Sekretariat DPD Golkar Bali, Jalan Surapati, Denpasar Timur, Minggu (19/10/2025).
Lebih lanjut, Demer mengingatkan bahwa pada masa lalu Buleleng justru lebih maju dibanding Denpasar dan Badung karena memiliki pelabuhan yang menjadi penopang ekonomi.
“Dulu Buleleng lebih hebat karena ada pelabuhan. Pelabuhan itu yang membuat Buleleng berkembang. Mudah-mudahan bandara segera terbangun, itu poin pentingnya,” ungkap politisi asal Buleleng ini.
Menurutnya, pembangunan bandara di Bali Utara menjadi kebutuhan mendesak.
“Tanpa infrastruktur itu akan berat. Wisatawan sudah lelah karena bisa menempuh 12–17 jam penerbangan dari negaranya, sehingga mereka hanya berwisata di sekitar Badung, Gianyar, dan Denpasar,” jelasnya.
Demer menambahkan, jika infrastruktur seperti bandara dan jalur kereta api terwujud, maka objek wisata di Bali Utara dan Timur juga akan berkembang pesat.
“Kalau boleh dibilang, objek wisata di Karangasem dan Buleleng justru lebih menarik. Tapi karena kalah di infrastruktur, potensi itu belum tergarap maksimal,” katanya.
Ia juga menyoroti posisi strategis Buleleng yang sebenarnya lebih dekat dengan berbagai destinasi wisata dibanding Denpasar.
“Buleleng ke Bedugul lebih dekat daripada Denpasar ke Bedugul. Begitu juga ke Kintamani. Karangasem juga lebih dekat ke Kintamani daripada Denpasar. Hanya saja kalah di infrastruktur. Harapan saya, mudah-mudahan jalan, bandara, dan kereta api segera terwujud,” ujar Demer.
Politisi yang juga anggota DPR RI Dapil Bali ini menegaskan bahwa Partai Golkar akan terus memperjuangkan pemerataan pembangunan infrastruktur di Bali.
“Saya hampir setiap hari menyampaikan bahwa masalah utama Bali adalah infrastruktur, terutama bandara,” katanya.
Demer bahkan memberi peringatan keras tentang masa depan ekonomi Bali jika tidak ada langkah nyata.
“Catat ucapan saya hari ini, 19 Oktober 2025. Jika tahun depan tidak ada bandara baru, Bali akan stagnan dan menghadapi masalah besar pada tahun 2030. Saya tahu pertumbuhannya, kapasitas bandara, dan jumlah wisatawan. Kalau tidak ada bandara baru, Bali akan stagnan,” tegasnya.
Menurutnya, dampak stagnasi itu akan paling dirasakan oleh pelaku usaha kecil di sektor pariwisata.
“Yang kasihan nanti adalah pengelola akomodasi kecil seperti penginapan dan villa tanpa jaringan internasional. Mereka akan perang tarif karena wisatawan sulit bertambah, sementara jumlah akomodasi terus meningkat,” ungkapnya.
Demer juga menilai masa depan pariwisata Bali semakin mengkhawatirkan karena persaingan global yang semakin ketat.
“Saingan kita banyak — Thailand, Malaysia, dan Vietnam sedang sangat agresif. Dari Eropa, penerbangan ke negara-negara itu jauh lebih dekat. Budayanya pun hampir mirip dengan kita,” tandasnya. (jay/jon)








