
TABANAN – Minimnya curah hujan, menjadi ancaman kekeringan yang menghantui lahan pertanian tadah hujan di Kecamatan Selemadeg. Data dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Selemadeg, Subak Bulung Daya, Desa Antap menjadi salah satu yang paling terdampak.
Dari total luas subak 138 hektar, sekitar 69 hektare berisiko kekeringan karena sangat bergantung pada curah hujan (sawah tadah hujan). Kondisi ini terutama dirasakan di Tempek Bulung Daya dan Tempek Kemuning.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Antap, Kadek Diah Pradnyani, menjelaskan kekeringan ini melenceng dari prediksi BMKG yang memperkirakan tahun ini akan terjadi kemarau basah. Kalau tidak turun hujan dalam waktu cukup lama, otomatis irigasi kering.
“Prediksinya kemarau basah, tahun ini seharusnya banyak potensi hujan, kenyataan tidak. Subak Bulung Daya sangat bergantung pada curah hujan.,” ungkapnya, Selasa (26/8/2025).
Diakui, curah hujan yang cukup tinggi pada Juni dan Juli sempat membuat petani sumringah dan bersemangat menanam padi. Masa tanam yang dimulai pada Juli sempat terganggu karena saluran irigasi di Bajera jebol.
Proses tanam tetap lambat dan kini usia padi baru mencapai 2–3 minggu. Beberapa lahan yang dekat sumber air bisa diselamatkan dengan pompa, yang jauh benar-benar hanya mengandalkan hujan.
“Subak sudah mencoba mengajukan permohonan sumur bor ke pemerintah, tetapi belum terealisasi,” sebutnya.
Sementara , Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Made Subagia, mengakui ancaman kekeringan memang mengancam sejumlah lahan pertanian yang selama ini mengandalkan hujan seperti di Selemadeg. Namun terkait ancaman kekeringan,dari dinas juga telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi jangka pendek maupun panjang.
“Petani kami arahkan untuk menghemat penggunaan air dengan pola bergilir atau sistem sorog, sekaligus memperbaiki saluran irigasi yang rusak agar tidak ada kebocoran air,” ungkapnya.
Pertanian juga mendorong pemanfaatan teknologi dan alternatif sumber air seperti pompanisasi dan sumur bor. Untuk jangka panjang, perlu dilakukan pembangunan atau perbaikan bendungan dan dam parit agar air berlebih dapat ditampung saat musim hujan dan dimanfaatkan di musim kemarau.
“Kami juga mendorong penggunaan varietas padi yang lebih tahan kekeringan, seperti Inpago, Inpari 39, Inpari 42, dan varietas gogo lainnya atau menanam palawija,” jelasnya. (jon)








