
KUTA – Ketua Komisi IV DPRD Badung, I Nyoman Graha Wicaksana menghadiri sekaligus membuka secara resmi kegiatan Kartini Go Surf 2026 yang digelar di Pantai Kuta, Minggu (19/4/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penguatan peran perempuan dalam olahraga selancar sekaligus mendukung promosi pariwisata daerah yang inklusif.
I Nyoman Graha Wicaksana menegaskan bahwa DPRD Kabupaten Badung terus memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan positif, khususnya yang mendorong pemberdayaan perempuan dan generasi muda. “Kami di DPRD Badung tentu sangat mendukung kegiatan seperti ini. Kartini Go Surf bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga menjadi wadah bagi perempuan untuk menunjukkan potensi dan keberanian mereka di dunia selancar,” ujarnya.
Ia menilai kegiatan ini memiliki nilai strategis karena mampu mengintegrasikan olahraga, pemberdayaan perempuan, dan promosi pariwisata dalam satu momentum. Selain mendorong lahirnya peselancar-peselancar muda, khususnya perempuan, kegiatan ini juga memperkuat citra pariwisata Badung sebagai destinasi yang aktif, kreatif, dan inklusif.
Menurutnya, ruang bagi perempuan di berbagai bidang, termasuk olahraga ekstrem seperti selancar, kini semakin terbuka luas. Ia ingin melihat lebih banyak perempuan Bali berani tampil dan berprestasi, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional hingga internasional.
Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Magic Wave ini diawali dengan doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta penampilan tari penyambutan dari anak-anak difabel. Acara kemudian dilanjutkan dengan laporan panitia, sambutan pembukaan, hingga prosesi pemotongan pita sebagai tanda resmi dimulainya kegiatan, serta pelepasan peserta Kartini Go Surf 2026.
Penggagas kegiatan, Bagus Made Irawan alias Piping mengungkapkan bahwa pihaknya secara khusus melibatkan peserta dari kalangan difabel, termasuk peselancar tunarungu. Ia mengaku terkesan dengan semangat dan ketangguhan para peserta selama menjalani proses latihan hingga pelaksanaan kegiatan. “Saya ajak mereka latihan dari pagi sampai sunset, dari surfing di Kuta sampai SUP di Kedonganan. Tidak ada satu keluhan pun. Mereka luar biasa kuat,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Corti Bali, I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari, menekankan bahwa laut merupakan ruang yang adil bagi semua orang tanpa membedakan latar belakang. Ombak yang datang, menurutnya, adalah tantangan yang dihadapi bersama. “Setiap perempuan memiliki hak yang sama untuk berdiri di atas papan selancar kehidupan. Kehadiran surfer tunarungu bersama peselancar perempuan lainnya menjadi simbol solidaritas tanpa sekat,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterbatasan pendengaran bukanlah penghalang, melainkan cara berbeda dalam merasakan ritme alam. “Ini adalah wujud persaudaraan yang inklusif,” imbuhnya.
Menurutnya, antusiasme peserta sangat tinggi sejak awal keterlibatan. Awalnya kegiatan hanya diikuti perempuan pada umumnya, namun sejak 2021 mulai melibatkan peserta tuli setelah dinilai cukup mandiri. “Mereka sangat antusias. Saat ditawarkan belajar surfing, semuanya langsung mau. Bahkan setelah ikut pertama kali, mereka selalu bertanya kapan latihan lagi,” ujarnya.
Jumlah peserta tuli yang dilibatkan pun terus meningkat, dari empat orang pada 2021, lima orang pada 2023, hingga enam orang pada tahun ini. Ke depan, Yayasan Corti Bali berkomitmen terus mendukung pengembangan kemampuan mereka, termasuk membuka peluang menjadi peselancar profesional. Pihaknya juga menargetkan Bali dapat menjadi tuan rumah ajang International Deaf Surfing Competition di masa mendatang, sebagai upaya mendorong pariwisata sekaligus membuka ruang lebih luas bagi peselancar tuli.
“Kami ingin mereka diberi kesempatan yang setara. Jika diberi ruang, mereka bisa membuktikan kemampuan,” pungkasnya. (adi)








