
BULELENG – Upaya sinergis dan komperhensif dilakukan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dinas-PKP) Kabupaten Buleleng bersama Balai Besar Veterriner (BBVet) Pusat dan Denpasar dalam mencegah penyebaran penyakit Lumpy Skin Disease (LSD), Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Rabies.
Dengan bantuan 1000 vaksin dari BBVet Provinsi Bali dan Pusat, Tim Keswan Dinas-PKP Buleleng bersama aparat desa dinas, desa adat dan warga masyarakat melaksanakan vaksinasi hewan di Desa Pejarakan Kecamatan Gerokgak.
“Serangkaian momentum Hari Suci Tumpek Uye, hari Sabtu, 7 Februari 2026, dengan kinerja sinergi melibatkan seluruh komponen staf maupun doker hewan kita melaksanakan vaksinasi SLD, PMK dan Rabies di Desa Pejarakan,” tandas Kepala Dinas-PKP Buleleng, Gede Melandrat usai menghadiri panen jagung di Kecamatan Gerokgak, Selasa (10/2/2026).
Melandrat menegaskan peran aktif aparat desa dinas, desa adat serta warga masyarakat pemelihara hewan dalam program vaksinasi, patut diapresasi sebagai wujud kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan hewan yang dipelihara maupun diternak untuk dijual.
“Desa ini memang populasi ternaknya sangat tinggi, saya tentu sangat mengapresiasi desa, termasuk pak mekel dan seluruh kadus-kadus, yang ikut serta membantu kami mendatangi door to door, maupun mendatangkan para peternak dan masyarakat ke posko banjar atau bale kelompok untuk vaksinasi hewen peliharaan, baik SLD, PMK maupun Rabies,” jelasnya.
Peran aktif aparat desa dan masyarakat dalam program vaskinasi juga menunjukan tingkat partisipasi yang tinggi dan sangat membantu dalam memperlancar pelaksanaan program, sehingga tidak lagi harus didahului eduksi dan sosialisasi, tapi sudah langsung eksekusi.
Meningkatnya kesadaran dan partisipasi masyarakat ini, menurut Melandrat, dapat menjadi sebuah metode yang bisa diterapkan untuk percepatan penanganan penyakit SLD, PMK dan Rabies.
“Harapan kita tentu, penyebaran penyakit Rabies terutama PMK dan SLD dapat segera diantisipasi, di zero atau di nol kan, sehingga pada momentum Hari Raya Lebaran dimana kebutuhan daging meningkat, mampu mengangkat nilai jual Sapi Bali di Kabupaten Buleleng dan Bali menjadi sentral pemasok sapi ke daerah lain,” ungkapnya.
Selain kesadaran dan partisipasi masyarakat, keberadaan obat pestisida, bahan kimia yang mampu meredam nyamuk dan lalat sebagai penyebar virus ini dapat mencegah penyebaran penyakit SLD.
“Dan itu sudah kita lakukan bersama peternak yang sempat koloni. Artinya, bahwa tingkat kesadaran petani dan peternak dibawah sudah baik, sekecil apapun riaknya, sekecil apapun masalahnya sampai ke kita, sehingga mudah diselesaikan dan menjadi cara mudah dalam pengendaliannya,” tandas Melandrat yang juga menyebutkan pola ini segera dilaksanakan di Desa Sunberkelampok.(kar/jon)








