
BADUNG – Lemahnya kunjungan pariwisata di tahun 2025, ternyata juga dirasakan terjadi di kawasan kuliner Kedonganan. Kondisi tersebut diharapkan tidak terulang pada tahun 2026 ini.
Salah seorang pengelola tempat kuliner di Kedonganan, I Made Mahendra, sepinya tamu pada tahun 2025, mulai dirasakan sejak diberlakukannya kebijakan pembatasan kegiatan perjalanan dinas dan acara instansi di luar daerah. “Di 2025 itu dampaknya sangat terasa. Biasanya rombongan dari kementerian, BUMN, dan lembaga Pusat cukup banyak makan di Kedonganan,” ungkapnya.
Diterangkannya, di hari biasa, kunjungan sebelumnya bisa mencapai 600 orang bahkan 1000 orang per hari. Namun itu kemudian merosot menjadi 300 orang, bahkan 200 orang. Sementara pada kafe yang dikelolanya, penurunan diperkirakan berada pada angka 40 hingga 50 persen.
“Kami di Kedonganan ini sangat bergantung pada wisatawan. Kalau tamu sepi, dampaknya langsung ke keluarga-keluarga nelayan dan pekerja kafe,” imbuh pria yang juga Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kedonganan ini.
Kondisi itupun, kemudian diperparah oleh berbagai isu yang menerpa Pulau Dewata. Di antaranya seperti banjir dan gangguan cuaca, yang membuat sebagian wisatawan memilih destinasi alternatif.
Kondisi sepi itu, diharapkan tidak terjadi lagi di sepanjang tahun 2026. Untuk menambah daya tarik, pihaknya berupaya melakukan berbagai cara. Di antaranya seperti memberikan suguhan hiburan tari Bali kepada pengunjung. (adi,dha)








