
DENPASAR – Wacana pergeseran Hari Raya Nyepi ke Tilem Kasanga yang belakangan mengemuka kembali menuai sorotan. Penekun lontar sekaligus ahli filologi Bali, Sugi Lanus, menegaskan bahwa rujukan yang digunakan dalam polemik tersebut bersumber dari Lontar Sundarigama versi tidak lengkap, sehingga memunculkan kekeliruan tafsir.
Menurut Sugi Lanus, Lontar Sundarigama justru secara tegas menyebut Tawur Kasanga dilaksanakan saat Tilem Kasanga, dan keesokan harinya barulah dilaksanakan Brata Penyepian (Nyepi).
Penegasan itu disampaikan Sugi Lanus saat menjadi narasumber dalam seminar Pramanam Eva Paddhatih (Ritual Berdasarkan Ajaran Pustaka Suci) yang diselenggarakan PHDI Bali di Denpasar, Jumat (9/1/2026).
“Belakangan muncul polemik yang menyebut tawur dilakukan sebelum Tilem. Itu bersumber dari versi Lontar Sundarigama yang tidak lengkap,” tegasnya.
Sugi Lanus menjelaskan, berdasarkan versi lengkap Lontar Sundarigama yang tersimpan di Gedong Kertya, rangkaian Nyepi dijabarkan secara sistematis dan terbagi dalam tiga tahapan. Pada Prewani atau sehari sebelum Tilem, dilakukan persiapan sanggar tawang, sarana di catus pata, serta perlengkapan pemujaan.
“Pagi hari saat Tilem dilaksanakan melis, sore harinya baru digelar pecaruan yang telah dipersiapkan sehari sebelumnya. Keesokan harinya barulah dilaksanakan Brata Penyepian,” paparnya.
Ia mengungkapkan, lontar yang selama ini beredar luas kehilangan tiga halaman penting, sehingga menimbulkan kesalahan penafsiran. Kekeliruan tersebut, kata dia, berawal dari kesalahan cetak pada tahun 1976 dan kemudian turut direproduksi oleh beberapa pihak, termasuk dalam penerbitan lokal.
“Ini harus diakui sebagai kekeliruan bersama dalam proses percetakan dan distribusi,” ujarnya.
Sugi Lanus juga menambahkan bahwa dalam praktik kekinian, pelaksanaan melis bersifat opsional dan disesuaikan dengan desa, kala, dan patra masing-masing wilayah.
Menariknya, ia juga menyebut terdapat versi lain Lontar Sundarigama yang tidak secara khusus mengatur tentang Nyepi, melainkan langsung membahas sistem pawukon, menandakan pentingnya kehati-hatian dalam menjadikan lontar sebagai rujukan tunggal tanpa kajian filologis yang memadai. (sur)








