
KUTA – 5 persen dari Zona Musim (ZOM) di Bali, telah memasuki awal musim hujan. 95 persen lainnya, akan memasuki musim yang sama pada bulan Oktober dan November 2025.
Mengutip data prediksi musim hujan 2025-2026 yang juga dibacakan Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri dalam Sosialisasi Prakiraan Awal Musim Hujan Tahun 2025-2026 di Bali, Selasa (30/9/2025), dari 1 dari 20 ZOM di Bali telah memasuki musim hujan pada dasarian III bulan September 2025 ini. 1 ZOM dimaksud meliputi wilayah Bangli bagian selatan, Karangasem bagian selatan, dan Klungkung bagian utara.
Kemudian pada 9 ZOM, awal musim hujan diprediksi terjadi pada dasarian I – III bulan Oktober. Yakni meliputi sebagian besar Jembrana, Jembrana bagian barat dan timur; Buleleng bagian tengah, barat, dan selatan; Tabanan bagian barat, utara, dan tengah; Badung bagian utara dan tengah; Karangasem bagian barat; Bangli bagian tengah dan selatan; dan Gianyar bagian utara, tengah, dan selatan.
Berikutnya, untuk 10 ZOM lainnya, awal musim hujan diprediksi terjadi pada dasarian I – III November. Yang meliputi wilayah Jembrana bagian barat; Buleleng bagian barat, utara, timur, dan tenggara; Bangli bagian utara, tengah, dan timur; Karangasem bagian utara, barat, timur, tengah, dan selatan; Gianyar bagian selatan; Klungkung bagian selatan; Tabanan bagian selatan; Badung bagian selatan; Kota Denpasar; dan Pulau Nusa Penida.
Dalam penyampaiannya, Aminudin juga menyebutkan mengenai perbandingan prediksi awal musim hujan 2025-2026 terhadap rata-rata periode 1991-2020. 6 ZOM (30%) terbilang Sama, 8 ZOM (40%) Maju, dan 6 ZOM (30%) Mundur.
“Apabila dibandingkan dengan rata-rata awal musim hujan periode 1991-2020, sebanyak 6 ZOM diprediksi sama dengan rata-ratanya, 8 ZOM diprediksi lebih cepat dari rata-ratanya, dan 6 ZOM diprediksi lebih lambat dari rata – ratanya,” ucapnya mendampingi Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho.
Mengenai sifat hujan, umumnya diprediksi Normal (N). Dengan rincian, 15 ZOM (75%) Normal, dan 5 ZOM (25%) Atas Normal (AN). “15 ZOM ini meliputi seluruh wilayah Jembrana; Buleleng bagian barat, selatan, tengah, dan tenggara; Tabanan bagian barat, utara, tengah, dan selatan; Badung bagian utara, tengah, dan selatan; Gianyar bagian utara, tengah, dan selatan; Bangli bagian utara, tengah, timur, dan selatan; Karangasem bagian barat, tengah, timur, dan selatan; Klungkung bagian utara dan selatan; dan Kota Denpasar,” bebernya.
Sementara untuk 5 ZOM dengan sifat hujan AN, meliputi wilayah Buleleng bagian utara dan timur; Tabanan bagian tengah; Badung bagian tengah; Bangli bagian selatan; Karangasem bagian barat dan utara; Gianyar bagian selatan; dan Pulau Nusa Penida.
Soal puncak musim hujan 2025-2026, umumnya diperkirakan akan terjadi pada awal tahun 2026. Dengan rincian yakni 9 ZOM (45%) pada Januari 2026, dan 11 ZOM (55%) pada Februari 2026.
Sekilas untuk diketahui, sebagaimana disampaikan KaPokja Manajemen Data Meteorologi dan Klimatologi, I Nyoman Gede Wiryajaya selaku Ketua Panitia, sosialisasi tersebut dilaksanakan selama satu hari dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan sebagai peserta.
“Kegiatan ini bertujuan untuk menyosialisasikan hasil prakiraan awal dan potensi puncak musim hujan di Provinsi Bali kepada pemangku kepentingan. Selanjutnya, kegiatan ini kami harap mampu menjadi sarana diskusi, koordinasi, dan kolaborasi antar stakeholder terkait dalam menghadapi potensi dampak musim hujan, khususnya risiko bencana hidrometeorologi di Bali,” singkatnya. (adi)








