
TABANAN – Hujan deras yang melanda Tabanan beberapa hari terakhir menimbulkan berbagai bencana hidrologi seperti banjir, tanah longsor serta terjangan banjir bandang maupun pohon tumbang. Setidaknya ada 17 titik bencana di lima kecamatan.
“Dari data sampai tadi pagi, ada 17 kejadian bencana tersebar di lima kecamatan,” ungkap Kalaksa BPBD tabanan I Nyoman srinadha Giri usai mengikuti rapat paripurna DPRD Tabanan, Rabu (9/7/2025).
Bencana yang tersebut di lima kecamatan yakni di Kecamatan Kediri, Marga dan Tabanan yang kondisinya cukup parah. Seperti terjangan banjir bandang yang menyapu perumahan di bantaran tukad Yeh Dati mulai dari Perumahan Griya Multi jadi sampai di Perumahan Panorama Sanggulan dan perumahan lainnya.
Selain itu juga terjadi tanah longsor di banjar Dukuh, Dauh Peken Tabanan, wilayah Marga serta beberapa lokasi di Kediri. Di Kediri juga terjadi pohon tumvbang di jalan menuju Pura Luhur Tanah Lot di banjar Batugaing, Beraban.
Terkhair banjir di pasar Bajera diikuti jalan nasional jebol di depan pasar Bajera yang menyebabkan jalur ditutup total untuk perbaikan.
“Beruntung tidak ada korban jiwa, memang ada yang luka-luka sudah bisa ditangani. Kami juga melakukan pembersihan di lokasi banjir,” sebutnya.

Terkait kerugian material yang terjadi selama bencana ini, Srinadha Giri mengaku belum tahu pasti. Masih dilakukan perhitung termasuk oleh warga atau desa yang terdampak bencana tersebut.
“Kerugian material masih sedang dihitung, belum diketahui angka pastinya,” ucapnya.
Untuk perbaikan kerusakan yang terjadi kata dia, masih menunggu permohonan dari warga yang terdampak bencana untuk nantinya diajukan permohonan ke Bupati untuk dibantu. Dari hasil permohonan itu nanti ada RAB dan dibantu dalam bentuk uang bersifat stimulan.
“Jadi masyarakat yang memperbaiki kerusakan yang terjadi. Bantuan yang pemerintah berikan berupa stimulan,” sebutnya.
Untuk penanganan bencana di Tabanan selama tahun 2025 ini, telah dianggarkan dana sebesar Rp 5 miliar dalam bentuk belanja tak terduga. Hanya saja pemanfaatan langsung oleh OPD yang terkait. Saat ini lebih banyak digunakan Dinas PUPRPKP karena terkiat dengan perbaikan fisik.
Dia menambhakan, bencana yang terjadi bukan karena hujan saja, namun lebih pada perilaku masyarakat. Karena sebagian besar yang ditangani karena akibat dampak sampah dan bangunan yang ada di bantaran sungai .
“Semestinya sungai lebar 8 meter sekarang hanya 4 meter. Pola perilaku harus dijaga, sampah kita rawat agar tidak membahayakan. Sebagian besar karena sampah. Lubang disana tertutup sampah sehingga edit air kecil. Laju dari hulu besar sehingga tidak bisa melintas,” jelasnya. (jon)








