
GIANYAR – Sebuah pameran seni rupa bertajuk ‘Roots’ digelar di ARMA Museum Ubud, 24 Mei – 14 Juni 2025. Pameran dilaksankan sekaligus dalam rangka memperingati 100 tahun Walker Spies, seorang pelukis, perupa, dan juga pemusik asal Jerman menginjakkan kaki di Pulau Dewata.
Bukan hanya menunjukkan keindahan, pameran juga sarat akan kritik sosial. Utamanya menggambarkan perbedaan signifikan, antara Bali dahulu dan saat ini.
Pameran ini menampilkan karya seorang penulis dan pembuat film asal Swiss-Jerman, Michael Schindhelm. Pria yang juga aktif sebagai konsultan budaya ini berkolaborasi dengan perupa Made Bayak dan Gus Dark dalam pameran yang dikuratori Chiara Turconi dan Yudha Bantono tersebut.
Dituturkan Michael Schindhelm menuturkan, seratus tahun lalu, pelukis Jerman kelahiran Moskow, Walter Spies, mengunjungi Bali untuk pertama kalinya. Dan tak lama kemudian, Bali menjadi rumah barunya hingga meninggal dunia secara tragis di usianya yang ke 47 pada tahun 1942.
Spies, sambung dia, telah berteman dengan banyak seniman penting di Jerman. Ia juga pernah mengadakan pameran di Berlin dan Amsterdam, dan terlibat dalam pembuatan film horor pertama di dunia yaitu Nosferatu. Tapi pada kenyataannya, ia hampir terlupakan dalam sejarah seni Barat.
Namun di Bali sendiri, ada banyak orang yang menyimpan ingatan terhadapnya. Sebagai penari dan koreografer, Spies juga berperan dalam pengembangan tari lokal yang terbilang populer, yakni Kecak. Dan bagi para kolektor serta pemilik galeri, menghormatinya atas inisiatif pembentukan Pita Maha, yaitu koperasi seniman independen untuk mengekang pengaruh komersial pedagang seni Barat pada tahun 1930-an dan 1940-an.
Di Bali, Spies bertemu dengan bakat-bakat luar biasa seperti seniman I Gusti Nyoman Lempad dan penari sekaligus koreografer Wayan Limbak. Bersama mereka dan masih banyak yang lainnya, Spies mengupayakan modernisasi seni Bali dan menyadari pula pada saat yang sama bahwa seni tersebut harus dilindungi dari amukan imperialisme Barat.
“Ketika saya mulai meneliti Spies tentang Bali sekitar enam tahun lalu, saya segera menyadari bahwa saya membutuhkan bantuan seniman Bali untuk memahami dan menceritakan kisah tersebut,” imbuhnya.
Berkat saran dan dukungan Horst Jordt di Jerman, ia pertama kali bertemu dengan Agung Rai, yang mengetuai Walter Spies Society di Bali. Agung Rai memperkenalkan dan memfasilitasi dengan jaringan orang-orang yang berkecimpung di sektor budaya di Ubud dan tempat-tempat lain di Bali.
“Saya mengenal I Wayan Dibia, salah satu siswa terakhir Limbak, yang dianggap sebagai salah satu peneliti budaya, penari, dan koreografer terpenting di Bali, dan yang menciptakan tari topeng tentang Walter Spies sepuluh tahun lalu,” sambungnya.
Dalam karya Dibia, orang Bali menarikan karakter Spies, Chaplin, dan Margaret Mead: orang Barat, dihadirkan dalam bentuk fisik dan komunikasi gestur mereka, sebagaimana terlihat melalui lensa orang Bali. Bahkan seniman muda di Bali pun sangat akrab dengan sosok dan kisah Walter Spies.
Bersama etnografer dan penari Dewa Ayu Eka Putri, musisi Tutangkas Hranmayena Putu, seniman Made Bayak dan Gus Dark, serta Agung Rai dan I Wayan Dibia, selama beberapa tahun terakhir kami telah berupaya untuk mengeksplorasi kisah Spies dan dampaknya terhadap masyarakat Bali saat ini.
Dengan melakukan itu, kami telah menemukan sisi terang dan gelap dari warisan budaya bersama, yang dicirikan oleh budaya asli yang unik dan berkembang secara dinamis serta pariwisata massal, polusi, dan urbanisasi.
Kolaborasi ini telah menghasilkan pameran dan dokumenter fiksi dengan nama yang sama. Karya seni yang dihadirkan Made Bayak dan Gus Dark dalam pameran mengangkat tema-tema utama masyarakat Bali saat ini: pengkhianatan negara, ketahanan budaya spiritualnya sendiri dalam menghadapi masyarakat konsumen global, bentang alam yang terancam, dan genosida 1965/66. Karya-karya ini tertanam dalam peragaan ulang sinematik yang kami buat bersama dari kisah Walter Spies di Bali.
Semua ini terlaksana berkat dukungan yang murah hati dengan penuh kesabaran dari Kulturstiftung Basel H. Geiger | KBH.G di Basel, serta dari Museum ARMA Ubud telah memfasilitasi terwujudnya proyek seni, musik, tari, film, dan sastra yang kompleks ini. “Saya berterima kasih atas kerja sama yang harmonis dan membuahkan hasil dengan dukungan kurator Chiara Turconi dan Yudha Bantono, serta dengan semua seniman dan pekerja budaya yang terlibat,” imbuh Michael Schindhelm.
Dalam konferensi pers Founder Arma Museum Ubud, Agung Rai mengatakan, pameran ini menampilkan karya-karya yang lebih pada berbagi, tak hanya di Bali, bahkan dunia.
Kehadiran Walter Spies di Bali, mengajarkan orang Bali untuk merasakan keindahan, baik dari lanskip, tradisi, sehingga Bali menjadi living tradisi tak ada yang lain.
Pihaknya berterima kasih ada penawaran untuk menterjemahkan dan merumuskan Bali ke depan.
“Budaya orang Bali yang memuliakan air dan lingkungan itu sudah diletakkan oleh Walter Spies, namun sekarang itu hilang, dan kini lukisan dalam pameran ini mengunggahnya kembali,” jelasnya di Arma Ubud, Gianyar Jumat (23/5/2025).
Agung Rai menyatakan karya-karya ada video, lukisan kritik sosial dalam pameran ini perjalanan 100 tahun cukup panjang, ada positif, ada kurang baik. “Saya apresiasi berterima kasih dengan danya pameran ini, ARMA Ubud bekerjasama seniman-seniman muda untuk merumuskan, Bali ke depan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, kenapa Bali kebablasan, awalnya filsafat Bali dimplementasikan Walter Spies dengan memuliakan air, lingkungan. alam kemudian sekarang apa yang terjadi?
“Sumber-sumber dari Puri Ubud yang lama berinteraksi dengan Walter Spies, kata Agung Rai yang sejak muda mengagumi sosok dan karya Walter Spice, menunjukkan bagaimana Walter Spies begitu dekat berinteraksi dengan masyarakat lokal.
“Itu yang kagumi, keberaniannya meninggalkan Eropa yang sudah cukup maju dari sisi makan, inteleketual kemudian masuk ke Bali ibaratnya hutan serba gelap,” cetus Agung Rai.
Seniman Made Bayak yang menampilkan karya instalasi, lukisan dan ikut dalam film dokumentar “ROOTS” mengaku dalam dialog image nya mengajak Walter Spice melihat Bali yang lain.
“Karya kolaborasi ini, saya ajak Walter Spice ngobrol dengan Pak Agung Rai, teman-teman Wallhi Bali bicara tentang lingkungan dan alam,” Katanya.
Made Bayak mengaku berbicara hal, ngobrol hal yang jarang dilakukan, seperti tragedi kemanusian 1965. Ia mengajak masa ke belakang beberapa tempat seperti tugu peringatan yang kemudian hilang, bekas penjara di Denpasar tahun 1965, di mana tahanan politik ada di penjara pekambingan yang kemudian alasan dan kepentingan tertentu dipindahkan ke Kerobokan.
“Penting saya ajak Walter Spies untuk melihat situasi hari ini,” katanya menegaskan. (adi)








