
BULELENG – Berbagai ragam kegiatan dilaksanakan oleh eksponen masyarakat di Bumi Den Bukit serangkaian peringatan HUT ke-420 Kota Singaraja.
Tak hanya ‘Malam Kebersaman’ dengan tageline ‘Buleleng Berbangga’ pada tanggal 26-30 Maret 2024 di Lapangan Bhuwana Patra Singaraja, sesuai tema ‘Bulatkan Tekad Wujudukan Rasa Bangga’ Pemkab Buleleng melalui Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (DP2KBP3A) juga meluncurkan Semarak Pelayanan Terpadu Keluarga Berencana (SEPaduKB) 2024.
“Berbagai program kolaboratif kita lakukan sebagai bentuk komitmen menurunkan prevalansi stunting di Kabupaten Buleleng,”tandas Pj Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana saat membuka sosialisasi penguatan KB dan Kesehatan reproduksi (KBKesRepro) menuju Indonesia Emas 2024 di Gedung Laksmi Graha Singaraja, Kamis (21/3/2024).
Kepala BKPSDM Provinsi Bali ini menegaskan dengan komitmen, keseriusan serta kebersamaan seluruh OPD dan stakeholder terkait, prevalansi stunting di Kabupaten Buleleng bisa diturunkan.
“Salah satu bukti keseriusan tersebut adalah turunnya prevalansi stunting dari 11 persen di tahun 2022 menjadi 2,7 persen di tahun 2024. Turunnya prevalansi stunting merupakan aspek sentral dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM),” terangnya.
Penurunan prevalansi stunting yang cukup drastis juga sekaligus merupakan bukti sistem yang dibangun Pemkab Buleleng berjalan efektif sekaligus berkontribusi mewujudkan program nasional penurunan prevalensi stunting hingga 14 % pada tahun 2024.
“Jika stunting bisa diturunkan maka peningkatan kualitas sumber daya manusia juga relatif lebih baik dan kemajuan daerah juga bisa dicapai lebih cepat,” tegasnya.
Jika stunting bisa diturunkan, kata Lihadnyana, maka peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga bisa relatif lebih baik dan kemajuan daerah juga bisa dicapai lebih cepat.
“Saya punya keyakinan bahwa kemajuan suatu negara, kemajuan sebuah desa, atau sebuah daerah itu yang pertama adalah apakah kita bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Jangan harap kalau sumber daya manusia tidak digarap dengan baik, negara atau daerah itu bisa maju,” tandasnya.
Pembentukan SDM berkualitas, harus diawali dengan upaya mencegah stunting sejak dini antara lain dengan menjaga kesehatan reproduksi, jauh sebelum seorang ibu menikah dan mengandung.
“Penanganan stunting tidak bisa berdiri sendiri, harus melihat hubungan antara stunting dengan kemiskinan, pembangunan infrastruktur dasar dan juga inflasi,” terangnya.
Ia menambahkan, keberhasilan penurunan angka stunting merupakana bentuk kontribusi nyata dari stakeholder termasuk DP2KBP3A sebagai bagian dari Tim Percepatan Penanganan Stunting yang patut mendapat apresiasi berupa dukungan agar Buleleng dapat menurunkan prevalensi stunting demi Buleleng yang kita banggakan.
Lihadnyana berharap DP2KBP3A Buleleng mampu mendorong setiap keluarga memberikan dukungan terhadap anak dalam bertumbuhkembang menjadi manusia yang sehat, cerdas dan berpendidikan.
“Tidak mesti harus dua anak cukup, empat anak pun boleh sepanjang mampu mendorong dan mendukung tumbuhkembang anak hingga menjadi sumber daya manusia berkualitas. Penguatan program KBKesRepro merupakan usaha penting yang tidak bisa dikerjakan sendiri, peran tokoh adat dan agama juga sangat dibutuhkan,” pungkasnya. (kar/jon)








