
KUTSEL – Sebagai rangkaian dari Dies Natalis ke-61, Universitas Udayana (Unud) menyelenggarakan Kuliah Umum, di Auditorium Widyasabha, Selasa (10/10/2023). Sebagai pemberi Kuliah Umum yakni Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Mohammad Mahfud Mahmodin, S.H., S.U., M.I.P.
Dalam sambutannya, Rektor Unud, Prof. Dr. Ir. I Nyoman Gde Antara, M.Eng., IPU menyampaikan bahwa Indonesia tidak lama lagi akan kembali menggelar Pemilihan Umum (Pemilu). Yang mana Pemilu, merupakan sarana bagi seluruh elemen bangsa untuk memilih putra/putri terbaik.
“Beranjak dari hal tersebut, maka sudah sepatutnya semua warga negara memahami esensi dari Pemilu sebagai momen pengimplementasian hak untuk memilih dan dipilih (right to vote and right to be candidate). Sebagai bagian dari hak konstitusional, maka seluruh elemen bangsa harus memiliki perspektif yang sama untuk mewujudkan Pemilu yang bermartabat. Dengan demikian, setiap warga negara diyakini dapat berpikir dengan logis dan penuh rasa aman dalam nenentukan calon pemimpin pilihannya,” ucapnya melalui sambutan yang dibacakan Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Ir. I Gede Rai Maya Temaja, MP., IPU.
Disampaikannya pula, penyelenggaraan Kuliah Umum dengan tajuk ‘Demokrasi Konstitusional dan Pemilu yang Bermartabat’ itu juga merupakan salah satu bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pendidikan. Karenanya, penyelenggaraannya diharapkan dapat memberikan faedah yang positif bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya Bali.
“Untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas lagi, Kuliah Umum ini tidak hanya disaksikan oleh para undangan yang hadir secara luring di Auditorium Widyasabha. Melainkan juga disiarkan secara langsung melalui Youtube Channel Udayana TV,” pungkasnya.
Sementara itu, Menkopolhukam Mahfud MD mengakui bahwa sesungguhnya dirinya diundang untuk memberikan Kuliah Umum pada Puncak Dies Natalis Unud ke-61, Jumat (29/9/2023) lalu. Namun karena kesibukan, Kuliah Umum tersebut akhirnya diundur.
“Udayana itu, seperti yang pernah saya baca dari pernyataan Bung Karno, selain nama Prabhu Udayana, itu dahulu oleh Bung Karno disebut Universitas Daya Nasional. Daya itu kekuatan, sehingga diharapkan selain menjadi universitas yang mewakili kekesatriaan dan kebijaksanaan Prabhu Udayana, dalam Dies Natalis yang ke-61 ini, saya ingin mengucapkan juga, jadilah Universitas Daya Nasional yang mempunyai power yang kuat untuk kemajuan bangsa Indonesia di masa mendatang,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mahfud MD juga melakukan kampanye politik. Namun bukan kampanye politik elektoral, melainkan kampanye politik kebangsaan. Karena menurut dia, politik kebangsaan itu justru harus selalu dikuliahkan. Misalnya mengenai bagaimana seharusnya bernegara, bagaimana seharusnya rakyat menggunakan hak berdasarkan aturan, serta bagaimana seharusnya pejabat negara bertindak.
Pemilu, sambung dia, merupakan salah satu mekanisme yang menjadi penanda negara demokrasi. Agar proses dan hasil Pemilu benar-benar demokratis, maka Pemilu harus dilaksanakan secara bermartabat. Yaitu sesuai dengan nilai, etika, dan aturan hukum.
“Dalam Pemilu nanti harus dihindari penggunaan kampanye negatif, apalagi kampanye hitam. Karena berpotensi meningkatkan ketegangan dan perpecahan,” tegasnya dalam Kuliah Umum yang dimoderatori oleh Dr. I Dewa Gede Palguna, S.H., M.Hum. tersebut.
Masyarakat juga dipandang memiliki peran dalam mengedepankan etika, baik dalam menentukan pilihan maupun mendukung calon. Pertimbangan pilihan ditegaskan menjadi hal sangat penting, untuk dapat menciptakan iklim rasional dan adu program serta gagasan dalam Pemilu.
“Pemilu itu bukan mencari pemimpin yang ideal sempurna. Tidak ada pemimpin yang ideal sempurna,” sebutnya.
Karena pemimpin, sambung dia, juga manusia biasa yang merupakan campuran dari baik dan buruk. Namun dipastikannya, ada manusia yang kadar baiknya lebih banyak, ataupun sebaliknya.
“Nah, tugas saudara itu memilih yang terbaik dari yang tidak ideal. Memilih yang lebih sedikit jeleknya daripada lebih banyak jeleknya. Sehingga orang-orang yang jahat, kita halangi bersama-sama agar tidak bisa menjadi pemimpin di negeri ini,” pungkasnya. (adii)








