
TABANAN – DTW Tanah Lot memiliki beberapa ikon yang sangat menarik. Selain Pura Luhur Tanah Lot dan Pura Enjung Galuh, Pura Batu Bolong menjadi ikon yang sangat menarik. Terutama saat sunset yang sangat eksotik.
Namun kondisi areal pura ini mengalami sedikit masalah. Di Bagian jaba tengah atau bagian madia, tebingnya mengalami retak-retak di sepuluh titik. Mencegah hal yang tidak diinginkan, manajemen DTW Tanah Lot bersama Pengempon Pura sementara sudah menutup areal tersebut agar wisatawan tidak masuk terlalu jauh. Saat ini mereka pun masih menunggu tidak lanjut dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida untuk penanganannya.
Manager DTW Tanah Lot, Made Sudiana didampingi asisten manajer I Putu Toni Wirawan menjelaskan, keretakan pada tebing areal Pura Batu Bolong ini sejatinya sudah diketahui sejak 3-4 tahun lalu. Hanya saja belakangan retakan semakin banyak dan semakin besar, sehingga dikhawatirkan tebing akan longsor kalau tidak segera ditangani. Dari pendataan yang dilakukan pihak pengelola DTW Tanah Lot, keretakan ada di 10 titik dengan lebar 3-4 CM.
Manajemen juga sudah mengajukan ke badan pengelola untuk penanganan, sepertinya tidak bisa ditanggulangi karena biaya besar. Belum lagi mereka tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Mereka juga tidak tahu pasti penyebab retaknya tebing tersebut. Apakah karena gempuran ombak atau faktor alam lainnya. Sebagai langkah cepat, manajemen bersama pengempon Pura sudah bersurat ke BWS Bali Penida untuk penanganannya.
Dari pihak BWS bersama konsultan sekitar sebulan lalu juga sudah melakukan pengecekan di lokasi keretakan. Posisi bagian yang retak jika dilihat dari empat tahun lalu sampai sekarang memang tidak meluas atau masih tetap di sepanjang 20 meter dari arah Pura. Retakan paling banyak ditemukan di area madya mandala atau jaba tengah Pura.
Bahkan oleh pihak pengempon Pura dan manajemen, di titik retakan pernah diberikan batu candi. Namun lama-lama batu candi itu terkikis juga dan retaknya kembali muncul.
‘”Kalau penanganan keretakannya, jujur kami tidak bisa melakukan. Sebab yang retak ini bagian tebing. Kemarin sudah dilihat dan di cek pihak BWS bersama konsultan, dan kami diminta untuk mengukur keretakan secara berkala untuk dilaporkan,” katanya.
Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya tidak mengijinkan lagi pengunjung masuk lebih jauh dan mendekat ke areal Pura. Pihaknya memasang portal dan dijaga petugas mencegah wisatawan masuk. Untungnya kata Sudiana, ada Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2023 tentang larangan wisatawan masuk wilayah pura.
Itu kata dia, menjadi dasar payung hukum larangan wisatawan untuk masuk ke areal dalam Pura. Sehingga wisatawan yang ingin menikmati panorama kawasan Tanah Lot berikut dengan keindahan keberadaan Pura Batu Bolong, hanya bisa dilihat dari jaba Pura. Namun dipastikan hal itu tidak sampai mengurangi keinginan wisatawan dapat mengabadikan keindahan panorama terutama saat sunset.
“Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, kami sudah membuat pagar dari besi dan kayu untuk mengamankan wilayah yang retak,” terangnya.
Terkait hal itu, pihaknya berharap besar, BWS bisa segera membantu penanganan. Karena dikhawatirkan ketika nanti areal tersebut longsor maka wujud salah satu maskot atau ikon Tanah Lot yakni Pura Batu Bolong tidak sempurna.
“Mudah-mudahan tidak terjadi hal tidak diinginkan. Pasalnya, saat BWS datang dan meneliti ke lokasi disebutkan masih aman. Tapi kami hanya diminta ngecek secara berkala dan dilaporkan,” tandasnya.
Hal itu juga kata dia untuk mengetahui retakan tersebut telah stabil atau masih terus bergerak, sehingga nanti bisa diambil langkah-langkah antisipasi.
Sementara itu terkait kunjungan, Sudiana mengaku kini terus meningkat. Apalagi dengan adanya festival diharapkan akan bisa mendongkrak kunjungan.
“Kunjungan kini terus meningkat, rata-rata 5.000 orang per hari dan berharap akan terus meningkat,” pungkasnya. (jon)








