
BADUNG – Pengprov MI Bali nampaknya serius menyiapkan para fighternya menghadapi pra-PON yang akan dilangsungkan pada 20-27 Agustus 2023 di Surabaya. Pasalnya di pra-PON nanti, hanya fighter yang menempati 6 besar yang memegang tiket menuju PON 2024 di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut).
Penegasan itu dilontarkan Ketua Bidang (Kabid) Binpres Pengprov MI Bali Marcos Manurung. Diakui pria yang juga Ketua Umum terpilih Pengkab MI Badung pada Muskab MI Badung beberapa waktu lalu itu, memang aturan pra PON nantinya yakni satu kelas hanya enam fighter yang lolos PON 2024 plus dua yang lolos langsung dari pihak tuan rumah Aceh dan Sumut.
“Peringkat 6 pra-PON akan lolos PON 2024 tapi kuotanya tetap hanya 1 kelas lolos PON dari setiap provinsi. Sistim pra-PON juga tidak ada pembagian wilayah tapi semua bertanding secara bersama-sama untuk semua provinsi,” kata Marcos Manurung di Badung, Selasa (9/5/2023).
Lantas berapa idealnya jumlah fighter jika MI Bali mengirimkan full team ?
“Ya total 25 fighter. Dan Bali tidak ikut di satu nomor yakni di nomor muay aerobic cowok. Jika ikut semua nomor maka jumlah full team 28 fighter. Hanya persoalannya jika lolos semua lolos secara birokrasi apa akan dikirim oleh KONI Bali,” tanya balik Marcos Manurung.
Sejatinya kalau ada fighter Bali lolos tapi tidak dikirim Marcos mengutarakan MI Bali bisa saja mengirim dengan biaya sendiri. Hanya saja apakah bisa jika nantinya fighter dibiayai sendiri ternyata meraih medali di PON akan diberikan bonus seperti lainnya ?
“Contohnya jika ada fighter Bali lolos PON dengan meraih medali perunggu di pra-PON apakah akan dikirim ? Padahal masih ada waktu setahun untuk memoles fighter periah perunggu untuk bisa meningkatkan kualitas Raihan medalinya di PON 2024. Termasuk peraih perak. Padahal peraih perunggu atau perak itu potensi meraih medali emas di PON. Inilah nanti yang akan kami tanyakan semuanya ke KONI Bali,” demikian Marcos Manurung. (ari/jon)








