Permintaan Beras Meningkat, Harga Gabah Ikut Naik

0
180
Permintaan beras meningkat, harga gabah ikut naik

TABANAN – Belakangan muncul isu harga gabah anjlok. Namun kenyataan di lapangan justru harga gabah kering panen justru naik. Saat ini harga gabah kering panen sebesar Rp 4.500 per kilogram. Naik  Rp 100 sampai 200 per kilogramnya. Naiknya harga gabah ini disebabkan permintaan beras juga naik  sejak pandemi Covid-19 mulai melandai.

Sekretaris Perpadi Tabanan I Wayan Sukaarta mengatakan, seminggu terakhir harga gabah kering panen  di penggilingan sebesar Rp 4.500 per kilogram. Sebelumnya harga gabah di kisaran Rp 4.300 sampai 4.400 per kilogram di penggilingan.

“Nggak ada harga anjlok, malahan tiga hari  terakhir harga naik,” ungkap Sukaarta, Senin (23/5/2022).

 Pemilik penyosohan beras Bintang Timur Banjar Piling Kawan, Mengesta, Penebel ini mengungkapkan,  naiknya harga gabah juga dibarengi dengan permintaan beras yang semakin tinggi pasca pandemi Covid-19 melandai.  Dengan adanya permintaan beras meningkat, pembelian gabah juga meningkat yang berimbas pada naiknya harga gabah.

“Sekarang saya mulai berproduksi normal, per minggu bisa mengirim 20 ton beras di luar ASN. Jadi saya butuh gabah minimal 40 ton per minggu,” sebutnya.

Untuk pemasaran, pihaknya memang memasok ke hotel. Namun lebih banyak ke toko-toko atau langganan terutama di Badung, Denpasar, Gianyar bahkan sampai Singaraja. Sehingga pengiriman memang semakin banyak dan berimbas pada peningkatan pembelian gabah. Untuk mendapatkan gabah tersebut, pihaknya tidak saja membeli dari petani di Tabanan, juga keluar kabupaten seperti Jembrana bahkan Gianyar.

Ditanya soal rendemen gabah, saat ini kata Sukaarta ada dingka 53 persen. Dengan  jumlah tersebut baik petani maupun penyosohan sama-sama diuntungkan.

“Sama-sama tersenyumlah, karena rendemen diangka 53 persen. Kalau dulu bisa sampai 60 persen, tapi sekarang tak mungkin lagi. Entah kenapa?”  katanya dengan nada tanya.

Diakui, memang sempat ada pembelian gabah turun, namun itu disebabkan gabah petani rusak. Seperti yang terjadi di Marga, karena  tanaman padinya merah diserang hama. Rendemennya hanya diangka 47 persen, sehingga dipastikan harganya turun.

“Kalau gabahnya bagus, harganya juga pasti bagus, tapi kalau padinya sakit, otomatis harganya  turun karena rendemennya juga dibawa 50 persen,” pungkasnya. (jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × three =