
TABANAN – Kasus viral bule perempuan telanjang di Kayu Putih Pura Babakan, Desa Adat Bayan, Desa Tua, Marga, para tokoh adat Bayan sepakat menerima permintaan maaf bule Alina asal Rusia tersebut dengan pernyataan tertulis.
Setelah video dan fotonya viral di media sosial, pelakunya yang ternyata wisatawan asal Rusia bernama Alina dan rekannya datang ke Bayan langsung melakukan permintaan maaf kepada Prajuru pengempon Pura Babakan dimana Kayu putih berusia tujuh abad tersebut berdiri dan disakralkan. Mereka berdua melakukan persembahyang di bawah pohon tersebut sebagai bentuk permohonan maaf dituntun prajuru pura setempat.
Namun demikian , kasusnya tidak berhenti sampai di sana. Kedua Bule tersebut sempat dibawa ke Polres Tabanan untuk dimintai keterangan terkait aksinya tersebut. Bahkan kasus tersebut dikawal anggota DPRD Tabanan asal Marga Ni Putu Yuni Widyadnyani.
Menurut Yuni Widyadnyani atau akrab dipanggil Nuning, bule tersebut tidak sepenuhnya telanjang, tetapi masih menggunakan stocking yang warnanya mirip dengan warna kulitnya sehingga terkesan telanjang. Disamping itu bule tersebut juga mengira lokasi tersebut adalah tempat melukat seperti di wilayah Sebatu gianyar dan tidak adanya papan petunjuk yang menyatakan larangan untuk hal tersebut.
“Intinya seperti itu, keduanya sudah meminta maaf dan bersedia menanggung biaya upacara pecaruan, meski masyarakat tidak menuntut hal tersebut. Terpenting keduanya meminta maaf secara tertulis dan hadir saat upacara pecaruan tersebut yang digelar secepatnya. Pasalnya, bule itu enam hari lagi akan berangkat ke Dubai UEA,” jelas Nuning dikonfirmasi terpisah.
Di lain pihak, tokoh adat dan masyarakat di Desa Adat Bayan, Desa Tua, Kecamatan Marga melakukan pertemuan pasca viralnya video bule telanjang di obyek wisata Kayu Putih pada areal Pura Pemaksan Babakan. Dalam pertemuan itu, tokoh adat dan masyarakat setempat sepakat menerima permintaan maaf perempuan bule yang berpose telanjang di Kayu Putih. Serta tidak menuntut apapun.
Kesepakatan itu dituangkan ke dalam berita acara pertemuan dan surat pernyataan. Meski begitu, perempuan yang diketahui bernama Alina itu diminta untuk ikut melakukan persembahyangan saat upacara pecaruan dan ngaturang guru piduka dilakukan di kawasan Pura Babakan yang akan digelar Jumat (6/5/2022).
“Kami ikhlas memaafkan. Kami juga mulat sarira (introspeksi diri),” ujar Bendesa Adat Bayan, I Wayan Negeriawan.
Meski demikian, pihaknya berharap perempuan bule yang berpose bugil itu nantinya datang saat prajuru dan pengempon Pura Babakan melakukan upacara ngaturang guru piduka dan pecaruan.
Ia menyebutkan, salah satu pertimbangan para tokoh adat dan masyarakat Desa Adat Bayan menerima permohonan maaf itu karena bukan hanya perempuan bule itu saja yang salah. Pertimbangannya, bukan bule itu saja yang salah, pihaknya juga salah. Maksudnya, tidak memasang banner atau papan yang berisi larangan-larangan atau peringatan.
Agar tidak terulang lagi, pertemuan yang turut dihadiri Camat Marga dan Kapolsek Marga itu menyepakati penjagaan obyek wisata di kawasan suci akan diperketat.
“Kami akan libatkan Pokdarwis, Sipandu Beradat, Bakamda, semua akan kami libatkan untuk ikut mengawasi keamanan dan kenyamanan di tempat ini,” pungkasnya. (jon)








