
KUTSEL – Masyarakat Jimbaran sesungguhnya ‘tidak mengenal’ tradisi Ngerupuk pada momen satu hari sebelum perayaan Nyepi. Yang dikenal oleh masyarakat Jimbaran yakni tradisi Magegobog.
Bendesa Adat Jimbaran I Gusti Made Rai Dirga mengatakan, baik itu Ngerupuk ataupun Magegobog, sesungguhnya merupakan hal serupa. Namun secara istilah, masyarakat Jimbaran cenderung mengenal Ngerupuk dalam arti menyeruduk. Sementara Magegobog memiliki arti menyuarakan bunyi-bunyian.
Karenanya dalam pelaksanaan tradisi Magegobog, masyarakat Jimbaran menyuarakan berbagai jenis bunyi-bunyian. Yang secara tradisional sarana dan prasarananya berupa Kekepuak, Tek Tekan, serta bunyi-bunyian lain seperti Drengdengan. Selain itu, ada juga Obor, Prakpak, serta Kesuna Mesui Jangu.
“Sarana dan prasarana itu digunakan dengan maksud menetralisir,” ungkapnya ditemui Selasa (1/3/2022).
Sementara Ogoh-ogoh, katanya hadir menyusul tradisi Magegobog yang sudah turun-temurun itu. Karenanya Ogoh-ogoh tidak ubahnya dipandang sebagai pelengkap dari tradisi Magegobog.
Tradisi Magegobog sendiri, sambung dia, sesungguhnya ada di seluruh wilayah Jimbaran. Namun khususnya oleh warga dan pemuda Banjar Taman Griya, tradisi tersebut kemudian konstruksi kembali sebagai sebuah kegiatan yang spesifik. Yakni dengan mengadopsi Mepadu Telu sebagai rangkaian Magegobog.
“Magegobog Mepadu Telu ini akan dilaksanakan oleh para pemuda kami. Mereka yang dibagi menjadi tiga kelompok, akan menyuarakan bunyi-bunyian secara berkeliling ke arah berbeda, dan mereka akan bertemu di satu titik. Nah, pada saat pertemuan itulah yang dibuatkan fragmennya, sehingga berbentuk semi pertunjukan,” sebutnya.
Pertemuan tiga kelompok tersebut juga dimaknai sebagai pertemuan tiga unsur. Yakni unsur air, api, dan angin.
“Jadi nanti akan ada semacam perang unsur air dengan api, yang kemudian dinetralisir oleh angin. Ini juga kita ambil dari cerita Adi Parwa, dimana ketika Brahma dan Wisnu bersitegang dan menunjukkan kekuatan masing-masing, maka hadirlah Siwa sebagai simbol Dewa Angin. Karena dengan angin, air ataupun api bisa besar. Dan oleh angin pula, api bisa padam dan air bisa kembali tenang,” jelasnya.
Secara filosofis, pertemuan tersebut juga dimaknai sebagai sebuah cara untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki. Itu senada dengan tema yang diangkat dalam Magegobog Padu Telu kali ini, yakni Rumaruh Wiweka Jati (Rumaruh adalah mencari, Wiweka adalah kebenaran logika, dan Jati adalah sesungguhnya). Di samping itu, gelaran tersebut sekaligus diharapkan dapat mengurangi kebiasaan untuk terpaku pada smartphone, dan mulai bersosialisasi melalui kreativitas seni dan budaya.
Terpisah, Kelian Adat Banjar Taman Griya I Wayan Warsana juga mengampaikan hal serupa. Kata dia, Magegobog Padu Telu sesungguhnya sudah mulai dirancang sejak sekitar satu tahun silam.
“Setelah dikonsep sedemikian rupa, pelaksanaannya kami serahkan kepada para pemuda di Sekaa Teruna Banjar Taman Griya,” sebutnya.
Sementara itu, Ketua Sekaa Teruna Manik Giri Banjar Taman Griya AA Bagus Galang Sutan Deresto mengatakan, latihan kaitan dengan gelaran Magegobog Padu Telu sudah dilaksanakan sejak awal tahun 2022. Dan kini, persiapan terbilang sudah terbilang matang, melalui pelaksanaan gladi bersih pada Senin (28/3/2022).
“Secara kesiapan sarana dan prasarana dibutuhkan, kami sekaa teruna juga telah bergotong-royong bersama krama adat. Seperti pembuatan Kul-kul, Obor, Kekepuak, dan Prakpak,” bebernya sembari mengatakan bahwa dalam Magegobog Padu Telu itu juga akan dihiasi ogoh-ogoh sederhana yang disesuaikan dengan tema diangkat.
Magegobog Padu Telu, sambung dia, akan dilaksanakan setelah prosesi Mecaru di Banjar Taman Griya usai, yakni sekitar pukul 17.30 Wita. Setelah berkumpul dan terbagi menjadi tiga kelompok, dengan menyuarakan bunyi-bunyian, para pemuda bekeliling di wewidangan banjar.
“Setelah berkeliling, tiga kelompok itu akan bertemu di perempatan depan Banjar Taman Griya. Begitu bertemu, maka Kul-Kul banjar akan dibunyikan, dan dilanjukan dengan fragmen semi pertunjukan,” ucapnya mengenai tradisi yang dalam pelaksanaannya juga akan dihiasi nyanyian berjudul ‘Teng Teng Nyer’ itu. (adi/jon)








