
DENPASAR – Pengerjaan proyek pembangunan shortcut Singaraja-Mengwitani pada titik 7A, 7B, 7C dan titik 8 minim menuai keluhan. Sebab, proyek senilai Rp 145.5 miliar yang digarap mulai September lalu itu disinyalir lebih banyak menyerap tenaga kerja luar Bali.
Adanya pengaduan itu segera ditindaklanjuti Ketua Komisi III DPRD Bali Anak Agung Ngurah Adhi Ardhana.
“Kita akan turun untuk melihat langsung situasi di lapangan mengingat proyek juga baru berjalan dua bulan,” ujar Adhi Ardhana, Rabu (17/11/2021).
Politisi PDIP asal Puri Gerenceng Denpasar itu menegaskan, pihaknya sudah sering menyampaikan dan mengingatkan dalam rapat-rapat pembahasan agar dalam pengerjaan proyek lebih banyak memanfaatkan tenaga kerja lokal dan menjadi komitmen Pemerintah Provinsi Bali.
Bahkan, saat acara peletakan batu pertama, Kamis (2/9/2021), Gubernur Bali Wayan Koster juga menyampaikan pembangunan shortcut akan menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar dengan melibatkan warga lokal sebagai pekerjanya.
“Penyerapan tenaga kerja lokal merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh perusahaan dan penempatannya disesuaikan dengan kemampuan SDM. Apalagi, pemenang tender notabenenya perusahaan konstruksi asal lokal Bali,”tandasnya.
Seperti diketahui, shortcut titik 7A, 7B, 7C akan dibangun sepanjang 601 meter dan titik 8 dibangun sepanjang 1.564 meter. Proyek ini diharapkan dapat mengurangi kelokan dan kemiringan jalan sehingga dapat mempersingkat waktu perjalanan dari Singaraja ke Denpasar, begitu pula sebaliknya.
Pembangunan menggunakan anggaran dari APBN Rp 145.5 miliar. Selain membangun shortcut, dalam proyek tersebut juga akan dibangun rest area atau anjungan pandang dan monumen Ki Barak Panji Sakti dengan luas area taman dan parkir 2.158 M2, serta luas bangunan 180.3 M2, dengan biaya mencapai Rp 4.171.904.431,67. (arn)








