
TABANAN – Sebuah jembatan gantung yang menghubungkan Banjar Galiukir Kelod, Desa Kebon Padangan dengan Banjar Kebon Jero Kangin, Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan, Tabanan putus diterjang air bah atau air blabar saat hujan deras, Rabu (3/11/2021). Jembatan putus diterjang besarnya air Sungai Yeh Ho
Perbekel Kebonpadangan, I Made Arif Hartawan membenarkan jembatan pintas penghubung dua desa bertetangga tersebut putus diterjang air bah.
“Kejadiannya kemarin (Rabu) karena diterjang air bah di Tukad Yeh Ho ini,” ungkap Made Arif, Kamis (4/11/2021)
Made Arif menuturkan, jembatan vital sepanjang 24 meter dan lebar 1,5 meter tersebut yang menghubungkan dua desa ini kerap digunakan warga setempat untuk akses pertanian dan perkebunan. Praktis dengan putusnya jembatan gantung yang dibangun tahun 2000 silam ini membuat aktivitas perekonomian masyarakat tersendat. Beruntung, tidak ada warga yang sampai terisolir dengan putusnya jembatan ini.
“Kini warga harus memutar cukup jauh sekitar 20 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 40 menit,” sebutnya.
Sebelumnya kata dia, warga memanfaatkan jembatan gantung yang bisa digunakan untuk sepeda motor ini hanya memerlukan waktu sekitar 6 menit untuk menuju kebun atau ke desa tetangga. Aktivitas perekonomian untuk pertanian dan perkebunan ini sangat lancar dan lebih efisien dari segi waktu.
“Hilangnya akses vital ini kemungkinan harga hasil pertanian dan perkebunan nantinya akan meningkat mengingat jarak dan waktu yang ditempuh. Saat ini hanya bisa dilewati dengan jalan kaki ketika air surut,” ucapnya.
Disinggung mengenai usulan jembatan permanen untuk memudahkan aktivitas ekonomi masyarakat yang bergerak di bidang pertanian dan perkebunan ini, Made Arif menyatakan pihaknya bersama warga setempat sudah membuatkan akses baru.
Pihaknya juga sempat mengusulkan ke pihak DPRD Tabanan lewat Anggotanya Dapil Pupuan, I Gusti Nyoman Omardani dan dilanjutkan ke Gubernur Bali. Namun, jika ada bantuan kemungkinan akan dibuatkan jembatan sementara dengan konsep jembatan gantung seperti sebelumnya.
“Untuk pembuatan jembatan butuh dana besar. Jangka pendek kami berharap bisa dibuatkan jembatan gantung seperti sebelumnya, Rp 20 cukup,” harapnya.
Namun demikian, pihaknya berharap dapat dibangunnya jembatan permanen. Jalur tersebut sangat vital untuk lalu lintas hasil pertanian. Kedepan , pihaknya berharap bisa dibangun jembatan dan bisa dilalui kendaraan roda empat. (jon)








